Interculturalism in The Eyes of Marege Performance

Alif Anggara

Abstract


Abstract
The Eyes of Marege is a surreal drama which consists of two acts with fourteen scenes. It is an intercultural performance that raises the history of relations between Makassar and Aborigines in the past. The research aims to know the basic idea of creation, the concretization stages, as well as the structure and texture of the performance. This research applies a qualitative method with a sociological approach. Observations were started from DVDs of the performance and drama script of The Eyes of Marege. Data were collected from interviews with some respondents and literature study. The Eyes of Marege is inspired by folklore, myths, songs about Makassarese coming to Arnhem Land - Northern Australia to find sea cucumbers. It was the place where Julie Janson had lived for thirty years and was raised by the Yolngu family. In addition, Julie Janson got some other inspirations from several readings and personal experiences when visiting Makassar.
Keywords: Eyes of Marege; Makasarese folklore; Julie Janson

Abstrak
Interkuluralisme dalam Pertunjukan The Eyes of Marege. The Eyes Of Marege merupakan drama absurd atau surealis yang terdiri dari dua babak dengan empat belas adegan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ide dasar penciptaan, tahapan konkretisasi, serta struktur maupun tekstur pertunjukannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sosiologi. Penelitian dilakukan dengan cara pengamatan pertunjukan dan analisis naskah drama diikuti dengan wawancara dan studi pustaka. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa drama ini terinspirasi dari cerita rakyat, mitos, nyanyian-nyanyian tentang orang Makassar yang datang ke Arhemland – Australia Utara untuk mencari teripang. Tempat itu adalah tempat di mana Julie Janson pernah tinggal selama tiga puluh tahun dan diasuh oleh keluarga Yolngu. Drama ini dapat digolongkan sebagai pertunjukan interkultural yang mengangkat masalah sejarah hubungan antara suku Makassar dan suku Aborigin yang pernah terjalin di masa silam.
Kata kunci: Eyes of Marege; folklore Makassar; Julie Janson


Full Text:

PDF

References


Cauvel, Richard. 2005. Indonesia-Australia tantangan dan kesempatan dalam hubungan politik bilateral. Jakarta. Universitas Indoneia(UI) dan Granit

Dayakisni Tri, Yuniardi Salis. 2008. Psikologi Lintas Budaya. Malang: Universitas Muahammadiayah Malang.

Dietrch, E. John. 1953. Play Direction. America: Englewood Cliff NJ.

Harymawan, RMA.1993. Dramaturgi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Kernodle, George. 1967. Invitation to theTheatre. New York: Harcourt. Brace & World. Inc.,

Murgianto, Sal. 1998. Keragaman dan Silang Budaya. Bandung: MSPI

Murgianto, Sal. 2016. Pertunjukan Budaya dan Akal Sehat. Jakarta: PSFP IKJ.

Sahid, Nur. 2013. Estetika Teater Gandrik Yogyakarta Era Orde Baru Kajian Sosiologi Teater. Yogyakarta: Badan Penerbit ISI

Yogyakarta.

Sedyawati, Edy. Seni Pertunjukan Dalam Perspektif Sejarah, dalam Jurnal

Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia Th.IX-1998/1999. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Sarumpear, Jan Pieter. 1991. Linguistik di Indonesia-Pengaruh bahasa Makassar terhadap bahasa Aborigin. Jakarta: Masyarakat Linguistik Indonesia

Sugiyati S.A. dkk. 1993. Teater Untuk Dilakoni. Bandung: Studiclub Teater Bandung bekerja sama dengan CV. Geger Sunten.

Anirun, Suyatna. 2009. Melakoni teater. Serpihan Tulisan Tentang Teater. Bandung: Studiclub Teater Bandung.

Yatim, Nurdin. 1991. Pelayaran Teripang Dari Makassar Ke Marege. Makassar: Pemerintah Daerah Propinsi Dati I Sulawesi Selatan.

Yudiaryani. 2015. Rendra dan Teater Mini Kata. Yogyakarta. Galang Pustaka




DOI: https://doi.org/10.24821/dtr.v1i1.2249

Article Metrics

Abstract view : 31 times
PDF - 26 times

DOI (PDF): https://doi.org/10.24821/dtr.v1i1.2249.g735

Refbacks

  • There are currently no refbacks.