Malay Dance: Expression on Maritime Society

Rina Martiara

Abstract


Abstract
Nusantara as bhinneka (unity) culture has not been studied completely and comprehensively. It is only called as equatorial emerald region that most of the people are farmer. Children’s song says that my grandmother is a sailor, but Nusantara’s society can not precisely express the distance of society with the ocean. The current dance research examines dance as a particularistic study of dance on a particular tribe, and it ignores the extensive research on a large scale. This study will evolve to find the cultural mapping of Nusantara dance based on cultural style categorization of mental map; it is a new awareness of how to think based on cultural geography. The approach of the study was the analysis of the motion structure that builds a dance and all the supporting aspects that will create the cultural style of the community. Textual analysis will examine the elements of dance those are motion, accompaniment, floor pattern, property, makeup and clothing, outfit of show. Contextual analysis was used to analyze the cultural values in the dance. Those two methods can be used to draw aesthetic patterns possessed by Malay culture. The conclusion of maritime culture pattern study presented that there were four different patterns with farmer community pattern which have three patterns and rice farmer which have five patterns.
Keywords: Malay dance; maritime culture; pattern of four

Abstrak
Tari Melayu: Ekspresi Masyarakat Maritim. Nusantara sebagai budaya yang bhinneka selama ini belum mendapat kajian secara tuntas dan komprehensif. Nusantara hanya disebut sebagai daerah zamrud khatulistiwa yang sebagian besar masyarakatnya adalah petani. Lagu anak-anak mengatakan bahwa nenek moyangku seorang pelaut, tetapi justru masyarakat Nusantara tidak mampu menyatakan secara jelas jarak masyarakat dengan lautan. Penelitian tari yang berkembang sekarang ini umumnya lebih banyak melihat tari sebagai studi yang partikularistik mengenai tari pada suatu suku bangsa tertentu, dan melupakan kajian yang meluas dalam skala besar. Kajian ini akan berkembang untuk menemukan pemetaan budaya tari Nusantara berdasarkan kategorisasi gaya budaya yang didasarkan pada mental map, yaitu satu kesadaran baru tentang cara berpikir berdasarkan geografi budaya. Pendekatan yang digunakan adalah analisis struktur gerak yang membangun sebuah tari dan seluruh aspek pendukungnya yang akan membentuk gaya budaya masyarakat tersebut. Analisis tekstual akan mengkaji unsur-unsur tari yang terdiri dari: gerak, iringan, pola lantai, properti, rias dan busana, perlengkapan pertunjukan. Analisis kontekstual digunakan untuk menganalisis nilai-nilai budaya yang terkandung di dalam tari tersebut. Dari kedua metode tersebut dapat dipetakan pola estetis yang dimiliki oleh budaya Melayu. Simpulan yang dapat ditarik bahwa pola budaya maritim adalah pola empat yang berbeda dengan pola masyarakat petani ladang yang berpola tiga dan petani sawah yang berpola lima.

Kata kunci: tari Melayu; budaya maritim; pola empat


Full Text:

PDF

References


Amanriza, Ediruslan P.E., Hasan Junus, Idrus Tintin. (ed). 1985. Pertemuan Budaya Melayu Riau. Pemerintah Daerah Tingkat I Propinsi Riau.

Budisantoso, S., Parsudi Suparlan (ed). 1985. Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya. Pekan Baru: Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Riau.

Ellfeldt, Lois. 1976. Dance from Magic to Art. Dubuque, Iowa: Win. C. Brown

Geertz, Clifford. 1963. “The Integrative Revolution Primordial Sentimens and Civil Politics in the New States” dalam Old Societies and New States. New York: The Free Press of Glencoe.

Muhammad, Goenawan. 2008. “Melayu” dalam Tempo: Majalah Berita Mingguan. Edisi Nomor 23 bulan Maret 2008.

Murgiyanto, Sal. 1986. “Seni Tari Melayu: Struktur dan Refleksi Keindahan” dalam Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya. Pekanbaru: Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Riau.

Ong Hok Ham. 1986. “Pemikiran tentang Sejarah Riau” dalam Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya. Pekanbaru: Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Riau.

Ong Hok Ham. 2003. Wahyu yang Hilang Negeri yang Guncang. Jakarta: Pusat Data dan Analisa Tempo (PDAT).

Sabrin, Amin. Tanpa Tahun. Naskah Tarian Daerah Riau. Tanpa Penerbit.




DOI: https://doi.org/10.24821/dtr.v1i1.2251

Article Metrics

Abstract view : 16 times
PDF - 10 times

DOI (PDF): https://doi.org/10.24821/dtr.v1i1.2251.g737

Refbacks

  • There are currently no refbacks.