Imaji Pop Surealisme Figur Gendut Dalam Lukisan

Wahyuddin Nafilah Dias Prabu

Abstract


Tulisan ini mengangkat figur gendut sebagai ide dasar penciptaan seni lukis dengan menggunakan gaya pop surealisme. Penggabungan antara daya imajinasi tentang figur gendut dengan berbagai permasalahan yang bisa diangkat dari figur merupakan sebuah jalan dalam menciptakan karya-karya yang unik, terkadang satir, serta jenaka. Bentuk-bentuk kartunal yang digunakan dalam membuat figur gendut dan figur-figur lainnya merupakan satu tujuan khusus agar karya yang disampaikan memiliki unsur yang informatif terhadap para apresian. Menjadi gendut bagi setiap manusia yang mengalaminya sebenarnya bukan sebuah keinginan. Melalui berbagai perjalanan masa atau era yang bergulir hingga saat ini, persoalan tentang tubuh telah menuju pada bentuk yang indah dan ideal. Kecantikan dan ketampanan pada saat ini juga diukur pada orang-orang yang memiliki bentuk tubuh yang “normal” dan ramping. Bagi orang-orang yang memiliki kelebihan berat badan, tentunya jika diukur pada hal tersebut sangatlah tidak cocok. Figur gendut saat ini seperti diposisikan pada ruang yang sulit untuk mengeluarkan rasa percaya dirinya dalam menampik tentang apa yang diungkapkan di atas. Faktor kaum kapitalis dalam mendorong hadirnya pemikiran baru untuk hidup sehat tanpa menjadi gendut, juga semakin mengecilkan semangat orang-orang yang bertubuh gendut. Jika dilihat dari segi kesehatan, mungkin gendut terkesan seperti orang yang suka tidur, malas bekerja, dan sebagainya. Gendut berbeda dengan obesitas, karena obesitas merupakan penyakit kelebihan lemak di atas rata-rata yang membuat tubuh tak mampu mencerna makanan dalam berskala besar serta asupan makanan yang dikonsumsinya memiliki kalori yang sangat besar, sedangkan gendut merupakan kelebihan berat badan. Di sisi lain gendut memiliki banyak kelebihan yang berguna dalam memajukan hidupnya dan mewujudkan cita-citanya.

 

The Images of Pop Surealism: Fat Figures on Painting. This paper elevates the fat figures as the basic idea of painting creation by using pop surrealism style. The merging of the imagination of the fat figure with the various problems that can be lifted from the figure is a way to create unique works, sometimes satire, and funny. The cartoonous forms used in making fat figures and other figures are a special purpose for the work being delivered to have an informative element on the apresians. Being overweight for every human being is absolutely not anyone’s desires. Through a variety of era of the rolling period to the present time, a matter of the body shape has led to a beautiful and ideal shape. Nowdays, beauty and good looks are a standard measured for people with "normal" and slim body. For people who are overweight, of course, this standard is not suitable. The current fat figure is positioned in a space where it is difficult to expend his confidence in dismissing what is described above. The capitalist factor encourages the emergence of new ideas for healthy living without becoming fat, also further discourages the people of the fat body. Being viewed in terms of health, the obese people seem like those who like to sleep, lazy to work, and so forth. Fat is different from obesity, because obesity is a disease of excess fat above the average that makes the body is unable to digest food in a large scale and intake of food has a very large calories, while the fat is overweight. On the other hand, fat has many useful advantages in advancing his life and realize his ideals.


Keywords


figur gendut, kaum kapitalis, pop surealisme, kartunal

Full Text:

PDF

References


Baudrillard, P. J. (2009). Masyarakat Konsumsi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Hanstein, M. (2007). Botero. Cologne: Taschen.

Jordan, M. D. (2005). Weirdo Deluxe: the wild world of pop surrealism & lowbrow art. Canada: Chronicle Books.

Kusrini. (2016). "Fotografi Jalanan: Membingkai Kota dalam Cerita". Journal of Urban Society’s Arts, Volume 3( 2), 102–109. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.24821/jousa.v3i2.1482

Rosita, S. (2008). Gendut Itu Cantik. Yogyakarta: Ayyana.

Sartre, J. P. (2000). Psikologi Imajinasi. Yogyakarta: Bentang Budaya.

Susanto, M. (2011). Diksi Rupa. Yogyakarta: DictiArt Lab.

Swa Oetomo, K. (2011). Obesitas. Malang: UB Press.

Synnott, A. (2007). Tubuh Sosial. Yogyakarta: Jalasutra.

Tedjoworo, H. (2001). Imaji dan Imajinasi. Yogyakarta: Kanisius.

Wang, C. T. (2006). Sketsa Pensil. Jakarta: Erlangga.

Wijana, I. D. P. (2004). Kartun. Yogyakarta: Ombak.

Williams, R., Mc Cormick, C., & Reid, L. (2004). Pop Surrealism: The Rise Of Underground Art. Yogyakarta: Ignition Publishing.

Pustaka Laman

Dyball, Rennie. My Big Fat Fabulous Life Star: I'm Not Promoting Obesity. 2015

http://www.people.com/article/my-big-fat-fabulous-life-whitney-thore-tlc-season-two. (Diakses pada Minggu, 20 Desember 2015, pukul 15.30 wib).

Mencher, Kenney. Woman from Willendorf, (Venus of Willendorf ), Austria. http://www.kenney-mencher.com. (Diakses pada Kamis, 20 Januari 2011, pukul 19.15 wib).

Natalie. Fat Talk! Plus size fashion promotes obesity? Whatever!.

http://extralargeaslife.com/2011/fat-talk-size-fashion-promotes. (Diakses pada Senin, 21 Desember 2015, pukul 17.35 wib).

No Title. (n.d.). Retrieved from http://www.kenney-mencher.com




DOI: http://dx.doi.org/10.24821/jousa.v4i1.1489

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Creative Commons License
This work is licensed under a 
Creative Commons Attribution 4.0 International LicenseISSN 2355-2131 (print) | ISSN 2355-214X (online).