Membedah Makna Lukisan Jim Diragandi “Teriakan Ternodai” Melalui Metode Kritik Seni

Pungky Febi Arifianto

Abstract


Pameran sebagai ruang berkesenian memberikan sebuah ambiensi mengenai karya seni dan masyarakat pemangku kesenian. Hal tersebut menjadikan pameran sebagai ruang interaksi bagi seniman memamerkan dan penonton sebagai penikmat seni. Tulisan ini dibuat sebagai sebuah cara  penulis menikmati kesenian dengan menggunakan metode kritik seni dengan pendekatan semiotika.  Kritik seni dilakukan sebagai salah satu cara untuk membedah makna yang ada di dalam karya seni dengan melalui 4 tahapan, yakni, mendeskripsikan, menganalisa, mengintrepetasi, menilai, disertai dengan pertimbangan mengambil objek penelitian terhadap karya seni. Karya yang dijadikan materi subjek adalah karya lukisan Jim Diragandi yang di pamerkan di Festival Kesenian Indonesia ke 8 di Gedung Serbaguna ISI Yogyakarta. Diharapkan penulisan kritik seni bukan sebagai media untuk menjustifikasi karya itu jelek maupun bagus. Namun lebih mengukur kepekaan kita sebagai insan akademisi dalam mengapresiasi sebuah karya seni.

Kata kunci : pameran, FKI, kritik seni, semiotika

References


- Buku

Bahari, 2006. Kritik Seni. Yogyakarta: Penerbit Buku Pustaka

Bangun,Sem C.2001. Kritik Seni Rupa.Bandung:ITB

Hadi, Y. Sumandiyo. 2006. Seni dalam Ritual Agama. Yogyakarta : Penerbit Buku Pustaka

Koentjananingrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Cetakan IX. Jakarta : Penerbit Rineka Cipta

Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka

Marianto, Dwi. 2015. Art & Levitation Seni dalam Cakrawala. Yogyakarta:Pohon Cahaya

Tinarbuko, Sumbo. 2008. Semiotika Komunikasi Visual. Yogyakarta:Jalasutra

- Laman

www.cavetocanvas.com, 28/7/2015




DOI: https://doi.org/10.24821/jocia.v1i2.1752

Article Metrics

Abstract view : 158 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


ISSN 2442-3394 (media cetak)  || ISSN 2442-3637 (media online)


View My Stats