MANIFESTASI RINDU KEPADA IBU SEBAGAI TERAPI SENI

Bernadetha Dwi Puspitasari

Abstract


Ketika kita berbicara tentang ibu, kita tidak lagi berbicara mengenai fisiknya, tetapi kita akan lebih sering berbicara mengenai kasihnya, perjuangannya, cara mendidiknya, hingga doa dan harapannya seorang ibu kepada anaknya. Ibu adalah sosok penting dalam kehidupan manusia, perannya yang kuat dalam keluarga membuktikan bahwa semua anak yang tumbuh dalam sebuah keluarga akan bergantung padanya. Dimanapun kita berada, doa ibu senantiasa menguatkan dan membuat kita yakin akan apa yang tengah kita kerjakan. Berbeda ketika seseorang tidak lagi memiliki ibu, hal yang akan sering dirasakan adalah rasa rindu atau rasa penyesalan karena mungkin belum sempat membahagiakan semasa hidup ibunya.

Kesedihan itu mungkin adalah reaksi normal, sama ketika seseorang mengalami rasa “kehilangan” seseorang yang dicintai, terlebih ketika kehilangan karena kematian ibu. Rasa kehilangan ini merupakan situasi yang aktual dan potensial yang dapat dialami oleh semua orang di dunia ini ketika berpisah dengan seseorang yang sebelumnya ada menjadi tidak ada. Keseluruhan rasa kehilangan tersebut, sangat berdampak bagi emosi penulis. Penulis membutuhkan sebuah cara melalui seni untuk mengurangi perasaan sedih serta rindu kepada ibu dalam kehidupan sehari-hari sebagai terapi.

Terapi seni sebagai solusi yang penulis yakini memiliki kemampuan untuk menerjemahkan isi pikiran, mencatat dan menyampaikan berbagai tingkatan emosi, dari rasa nyaman, hingga kesedihan yang terdalam, dari mulai kejadian yang membahagiakan hingga trauma. Terapi seni sangat bermanfaat sebagai “katup” pelepasan impuls-impuls memori positif maupun negatif yang sebelumnya terpendam. Selama proses kreativitas penciptaan karya seni, semua emosi dan pikiran yang mengendap akan tereksternalisasi atau tersalurkan. Semua emosi dan pikiran tersebut pada akhirnya akan menjadi jelas akar permasalahannya, karena terbaca dalam simbol-simbol dan bentuk yang ada dalam  pikiran yang terdapat pada karya. Kadang kala dibentuk dengan sadar atau tidak sadar dan memiliki makna terdalam yang berhubungan langsung dengan akar pikiran dan emosi si pembuatnya.

Kata kunci: Manifestasi, ibu, rindu, terapi seni, momori positif dan negatif


Full Text:

PDF

References


Effendy. Dasar-dasar Kepewatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta. EGC, 2004.

Ellen Winner. Invented World: The Psychology of the Art, Harvard University Press, 1982.

Erbe Sentanu. Quantum Iklas: Teknologi aktivitas dan kekuatan hati. Alex Media Komputindo. Jakarta, 2007.

Irma Damajanti. Psikologi Seni, PT Kiblat Buku Utama, Bandung, 2006.

Lemme, B. H. Development in Adulthood. USA: Allyn & Bacon, 1995.

M. Dwi Marianto. ART & LEVITATION:Seni dalam Cakrawala Quantum. Penerbit: Pohon Cahaya, Yogyakarta, 2015.

Mike Susanto,. Diksi Rupa: Kumpulan Istilah Seni Rupa. Yogyakarta. Penerbit: Kanisius, 2002.

Papalia, D. E, Olds, S. W. & Feldman. Human Development Psikologi Perkembangan (9th ed). Jakarta: Kencana, 2008.

Santrock, J. W. Life-Span Development Perkembangan Masa Hidup (5th ed). Jakarta: Erlangga, 2004.

Sarwono, Sarlito Wirawan. Pengantar Psikologi Umum. Rajawali, Jakarta, Press, 2009.

Sarwono, S. W. Psikologi Remaja. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004.

Sarwono, Sarlito Wirawan. Pengantar Psikologi Umum. Rajawali, Jakarta, Press, 2009.

Stewart, C. A, Perlmutter, M. Friedman, S. Lifelong Human Development. USA: Willey, 1988.

Suryani, Eko dan Hesti Widyasih. Psikologi Ibu dan Anak. Penerbit:Fitramaya, Yogyakarta, 2001.

Yuliawati, Livia, J. L. Setiawan & T.W. Mulia. Perubahan Pada Remaja Tanpa Ayah. Arkhe Th. 12/No.1/2007. 2007.




DOI: https://doi.org/10.24821/jocia.v4i2.2621

Article Metrics

Abstract view : 35 times
PDF - 40 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


ISSN 2442-3394 (media cetak)  || ISSN 2442-3637 (media online)


View My Stats