Dekonstruksi Seni RajutKejut di Era Disrupsi

Sari Wulandari

Abstract


Memasuki revolusi industri 4.0 di era postmodern, kini teknologi elektronik dan komputerisasi dan industri hiburan semakin berkembang ke arah otomasi proses produksinya dan mendorong tumbuhnya budaya massa, budaya populer sehingga banyak mengubah cara hidup manusia serta menimbulkan konsumerisme, mendorong munculnya kebutuhan semu dan menjadikan masyarakat hidup di dalam dunia simulasi, cenderung individualistik, teralienasi dan terfragmentasi. Komunitas RajutKejut sejak tahun 2014 melakukan aksi yarn bombing di ruang publik dengan rajutan karena kegelisahan atas kondisi kota Jakarta. Aktivitas ini merupakan bagian dari cara mereka menyalurkan kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat. Komunitas yang merupakan kumpulan perajut membuat jejaring dengan memanfaatkan media sosial dalam proses berkarya, mempublikasikan dan mendokumentasikan berbagai kegiatan. Banyak terjadi kontradiksi pada kemunculan karya seni ini di era postmodern di mana penggunaan seni rajut yang populer di masa lampau dikreasikan kembali dalam konteks masa kini disertai pemanfaatan teknologi digital. Penelitian ini mengkaji fenomena munculnya karya seni RajutKejut melalui metode penelitian Kualitatif dengan paradigma Postmodernisme yang dianalisis melalui Dekonstruksi seni RajutKejut di ruang publik pada era postmodern, untuk memunculkan dimensi-dimensi lain yang selama ini tertutup oleh paradigma modernisme.

 

Kata kunci: dekonstruksi, seni, rajut, postmodern

 

 


Full Text:

PDF

References


Hardiman, Budi F. 2015. Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Yogyakarta: Kanisius.

Heryanto, Ariel. 1994. Postmodernisme: Yang Mana? Kalam Edisi I. 80-93. Hidayat, Medhy A. 2017. Menggugat Modernisme. Yogyakarta: Jalasutra.

Kester, Grant H. 2011. The One and The Many: Contemporary Collaborative Art in a Global Context. London: Duke University Press, p.4.

Ryadi, Agustinus. 2004. Postmodernisme Versus Modernisme. Studia Philosophica et Theologica. Vol. 4/2. 90-100.

Storey, John. 2006. Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Jalasutra.

Sudjatmiko, Budiman. 2018. Indonesia 4.0: Berguru Pada Alam Yang Terkembang. [Pidato Kebudayaan] Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sugiharto, Bambang. 1996. Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat.

Yogyakarta: Kanisius.

Sunarya, I Ketut. 2005. Seni Kriya Sebuah Kajian Teks Dan Konteks. Jurnal Ornamen Seni Rupa STSI Surakarta, Vol. 2/1 2005: 80-96.

Suryajaya, Martin, “Dorongan ke Arah Estetika Partisipatoris” 2016. https://indoprogress.com/2016/02/dorongan-ke-arah-estetika- partisipatoris/ (Diakses pada 20 Desember 2018 pukul 06:41).

Tanjung, Chairul. 2019. Tantangan Generasi Milenial di Era Disrupsi. [Executive Lecture Series] Yogyakarta: Pusat Studi Kebijakan dan Kependudukan UGM.

Tanudirdjo, Daud Aris. 2017. Refleksi Kebudayaan: Dari Postmodernisme Hingga Pseudosain. Yogyakarta: UGM.

Walker, John. 2010. Desain, Sejarah, Budaya: Sebuah Pengantar Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.




DOI: https://doi.org/10.24821/jocia.v5i2.3444

Article Metrics

Abstract view : 90 times
PDF - 104 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


ISSN 2442-3394 (media cetak)  || ISSN 2442-3637 (media online)


View My Stats