Laku Gunung Sagara: Perubahan Sosial dengan Pendekatan Koreografi Lingkungan

Hendro Martono

Abstract


Fenomena perubahan sosial telah terjadi di Dusun Suru Kumadang Tanjungsari Gunungkidul. Sejak sepuluh tahun terakhir banyak warga yang semula petani menjadi pedagang di sektor kelautan, dipelopori oleh kaum perempuan sebagai pekerja sampingan berubah menjadi pekerjaan pokok. Tujuan dari penulisan ini untuk mentransformasikan gejolak batin dengan perubahan sosial masyarakat Gunungkidul menjadi sebuah karya seni. Pendekatan koreografi lingkungan untuk membedah reportoar bumi langit, gayuh bumi dan segara gunung digunakan dalam karya ini. Berdasarkan analisis koreografi dan semiotike teater. Laku Gunung Segara adalah manifestasi Labuhan dalam ruang kehidupan keseharian masyarakat Suru. Sintesis selanjutnya, menurut pandangan orang desa, Ratu Kidul merupakan jelmaan Dewi Sri sehingga orang desa tidak takut lagi bekerja di kelautan. Kesimpulannya
koreografi - Lingkungan berhasil menerjemahkan dan mengembangkan konseptual secara tuntas. Temuan kultural,
bahwa masyarakat desa yang mempunyai kesenian yang maju, memiliki persepsi pentingnya latihan dan mudah diajak kerjasama kreatif.


Key words: laku, gunung- segara, koreografi -lingkungan

ABSTRACT
Laku Gunung Sagara Dance. A social phenomenon has occurred in Suru Kumadang village, Tanjungsari Gunungkidul. For the past ten years, many villagers who were originally farmers have switched their professions into merchants in marine sector, pioneered by women who previously work as part-timers but now work as full-timers. The purpose aims at transforming the inner turmoil of Gunungkidul villagers’ social phenomenon into a work of art. The work of art uses environmental choreography approach to dissect the earth and sky repertoires, gayuh bumi and segara gunung. Based on the choreography analysis and theater semiotics, Laku Gunung Segara is the manifestation of Labuhan in the daily lives of villagers in Suru. Furthermore, in the view of the villagers, the South Queen is an incarnation of Goddess Sri so that the villagers are no longer afraid to work at sea. In conclusion, the environmental choreography has managed to interpret and develop the entire phenomenon. The cultural fi nding is that the villagers, who have advanced their arts, consider the importance of training and support active collaboration.


Keywords: gunung- segara dance, environmental choreography


Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.24821/resital.v12i2.494

Article Metrics

Abstract view : 339 times
PDF - 432 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.





This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.