TRADISI MEKARE-KARE DI DESA BALI AGA TENGANAN PEGRINGSINGAN DALAM FOTOGRAFI DOKUMENTER

I Wayan Aquaris Yanuarta, Pitri Ermawati, Kusrini Kusrini

Abstract


Abstrak

Penciptaan seni fotografi "Tradisi Mekare-kare di Desa Bali Aga Tenganan Pegringsingan dalam Fotografi Dokumenter" adalah penciptaan karya fotografi yang bertujuan untuk memaparkan serangkaian prosesi tradisi Mekare-kare (Perang Pandan) secara visual. Visualisasi dimulai dari rangkaian prosesi Nyikat, Hud Apisan, Metabuh Tuak, Ngastiti hingga puncak tradisi atau ritual Mekare-kare. Tradisi ini merupakan tradisi terbesar dan terpenting masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan karena merupakan ritual utama dan terbesar untuk memuja Dewa Indra. Data untuk pembuatan karya diperoleh dari hasil observasi dan eksplorasi, yaitu mengamati warga desa dan lingkungannya secara langsung di Desa Tenganan Pegringsingan, serta eksplorasi melalui serangkaian wawancara tentang tradisi Mekare-kare. Dalam perwujudannya, penciptaan karya fotografi dokumenter ini menggunakan pendekatan EDFAT (entire, detail, frame, angle, time). Metode ini dipilih agar memperoleh visualisasi yang bervariasi, detail subjek dapat terekam dengan baik, dapat menangkap setiap informasi secara utuh, dan memudahkan untuk merangkai karya menjadi sebuah cerita yang lengkap. Hasil karya fotografi yang terangkum dalam karya menceritakan rangkaian persiapan ritual Mekare-kare hingga saat ritual Perang Pandan. Setiap karya menyampaikan informasi secara mendalam tentang subjek foto pada tradiri Mekare-kare.

Kata kunci:  tradisi, Mekare-kare, Tenganan Pegringsingan, fotografi dokumenter

 

 

                                                     Abstract

Tradition of Mekare-kare in Bali Aga Tenganan Pegringsingan Village in Documentary Photography.The creation of "The Mekare-kare Tradition in Bali Aga Tenganan Pegringsingan Village in Documentary Photography" is the creation of photography works which aimed at exposing a series of Mekare-kare (Perang Pandan) tradition processions visually. Visualization started from a series of processions as Nyikat, Hud Apisan, Metabuh Tuak, Ngastiti to the peak ritual called Mekare-kare. Due to the largest and the most important tradition of Tenganan Pegringsingan village, it is the main and the greatest ritual to worship the God Indra.  Data were obtained from observation and exploration, observing the inhabitans and its surrounding directly in Tenganan Pengringsingan Village as well as exploring through a series of interview about Mekare-kare tradition.

This photography project applied EDFAT method approach (entire, detail, frame, angle, time). This method was chosen in order to obtain varied visualizations, recording details of the subject properly, capturing comprehensive information, and making it easy to assemble the work into a complete story.  Resulting photography works depicted a series of ritual preparation of Mekare-kare until the execution of Perang Pandan. Each photo tried to deliver in-depth information about the subject of the photo at the Mekare-kare tradition.

Keywords: tradition, Mekare-kare, Tenganan Pegringsingan, documentary photography


Full Text:

PDF

References


Ajidarma, S. G. (2001). Kisah Mata. Yogyakarta: Galang Press.

Alwi, A. M. (2004). Foto Jurnalistik: Metode Memotret dan Mengirim Foto ke Media Masa. Jakarta: Bumi Aksara.

Hoy, F. P. (1986). Photojournalism the Visual Approach. USA: Prentice Hall International.

Setiyanto, P. W. and Irwandi. (2017). Foto Dokumenter Bengkel Andong Mbah Musiran: Penerapan dan Tinjauan Metode EDFAT dalam Penciptaan Karya Fotografi. Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi, Vol. 13.

Soedjono, S. (2006). Pot Pourri Fotografi. Jakarta: Penerbit Universitas Trisakti.

Sucitra, I Gede Arya. (2013). Seni Foto Walter Spies Bali 1930. Yogyakarta: Bentara Budaya.

Sugiono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Wijaya, T. (2011). Foto Jurnalistik. Klaten: CV Sahabat.

Narasumber

Ketut Sudiastika, Kepala Adat (Keliang), tinggal di Desa Tenganan Pegringsingan.

Putu Yudiana, Kepala Desa Tenganan Pegringsingan, tinggal di Desa Tenganan Pegringsingan.

Made Nonik Krisna Dewi, Pemudi Desa Tenganan Pegringsingan, tinggal di Desa Tenganan Pegringsingan.

Wiwin Wianjani, warga Desa Tenganan Pegringsingan, tinggal di Desa Tenganan Pegringsingan.




DOI: https://doi.org/10.24821/specta.v2i1.2468

Article Metrics

Abstract view : 33 times
PDF - 16 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




ISSN: 2614-3477 (CETAK)   ||   ISSN: 2615-0433 (ONLINE)