KOMODIFIKASI TARI BADAYA DALAM UPACARA ADAT MAPAG PANGANTEN SUNDA

Pradasta Asyari, Dade Mahzuni, R. M. Mulyadi Mulyadi

Abstract


ABSTRAK

Badaya merupakan sebuah jabatan di dalam pertunjukan Wayang yang merujuk kepada emban geulis yang bertugas untuk mempersipkan segala kebutuhan Keraton sekaligus menari di hadapan Raja dan petinggi Keraton. Di awal perkembangannya, tari Badaya ini digunakan sebagai tari bubuka dalam pertunjukan Wayang Wong, yang kini telah beralih fungsi menjadi sebuah tari komoditi yang digunakan sebagai materi pokok dalam rangkaian Upacara Adat Mapag Panganten Sunda. Perubahan yang terjadi tidak hanya secara tekstual pada bentuk seninya, melainkan terhadap masyarakat itu sendiri sebagai pelaku dalam sektor ekonomi, industri, politik, dan pariwisata. Tulisan ini berupaya untuk menjelaskan bagaimana proses terjadinya tari Badaya menjadi sebuah tari komoditi dalam Upacara Adat Mapag Panganten melalui pemikiran Raymond Williams dan Theodor W. Adorno. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan secara etnografi dan historical analysis. Kajian ini memperoleh hasil bahwa komodifikasi tari Badaya memiliki standarisasi yang menggiring kemasan dengan pemadatan koreografi, durasi penampilan yang singkat, busana yang glamour dan mewah, rias sederhana, serta aksesibilitas instrumen pengiringnya.

ABSTRACK

Badaya is a position in the Wayang performance that refers to the Emban Geulis whose job is to prepare all the needs of the palace as well as dance in front of the king and other palace officials. At the beginning of its development, this Badaya dance was used as a powder dance in the Wayang Wong performance, which has now changed its function into a commodity dance which is used as the main material in a series of Sundanese Mapag Panganten Traditional Ceremonies. Changes that occur are not only textual in the form of art, but also to the community itself as an actor in the economic, industrial, political, and tourism sectors. This paper attempts to explain how the process of the Badaya dance becoming a commodity dance in the Mapag Panganten Traditional Ceremony through the thoughts of Raymond Williams and Theodor W. Adorno. The method used is a qualitative method with an ethnographic approach and historical analysis. This study finds that the commodification of Badaya dance has standardization that leads to packaging with compaction of choreography, short duration of performance, glamorous and luxurious clothing, simple make-up, and accessibility of accompanying instruments.


Keywords


Komodifikasi, Tari Badaya, Upacara Adat, Mapag Panganten Sunda||Commodification, Badaya Dance, Traditional Ceremony, Mapag Panganten Sunda.

Full Text:

PDF

References


DAFTAR SUMBER ACUAN

A. Sumber Tercetak

Adorno, T. W. (1991). The Culture Industry. Routledge.

Ahimsa-Putra, H. S. (2001). Strukturalisme Levi-Strauss: Mitos dan Karya Sastra. Galang Press.

Ardhi, B., Supriyadi, S., & Sulistyo, E. T. (2019). The Visualization of Wayang Kulit Purwa by Bambang Suwarno. Journal of Urban Society’s Arts, 6(2 (Oktober)), 101–111.

Caturwati, E. (2007). Tari di Tatar Sunda. Sunan Ambu Press.

Dana, I. M. B. M. (2022). The Identities of Barong and Keris Dancer towards the Commodification of Sacred Dance in Batubulan. Jurnal Mudra, 37(3 (Juli)), 265–270.

Hauser, A. (1982). The Sociology of Art. Routledge & Kegan Paul.

Kusnendi, C. (2007). Menjadikan Karawitan Sunda sebagai Seni Pribumi yang Eksis di Masyarakatnya: Antara Kenyataan dan Harapan. Jurnal Panggung, 17(1), 13–22.

Kustiana, Herdiani, E., & Herdini, H. (2022). Kepunahan Tari Badaya di Kabupaten Priangan: Kabupaten Bandung, Sumedang, dan Ciamis (1860-1950). Jurnal Makalangan, 9(1), 34–49.

Piliang, Y. A. (2006). Dunia Yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan (2nd ed.). Jalasutra.

Rohidi, T. R. (2011). Metodologi Penelitian Seni. Cipta Prima Nusantara.

Rusliana, I. (1989). Mengenal Sekelumit Tari Wayang Jawa Barat: Jilid 1 (Jilid 1). ASTI Bandung.

Rusliana, I. (2002). Wayang Wong Priangan. Kiblat Buku Utama.

Rusliana, I. (2003). Khasanah Tari Wayang(2nd ed.). STSI Press.

Rusliana, I., Risyani, Ningsih, E. N., Yusuf, I. R., Ramlan, L., & Heryadi, Y. (2009). Kompilasi Istilah Tari Sunda (I. Rusliana (ed.)). Jurusan Tari STSI Bandung.

Rustiyanti, S., Listiani, W., Sari, F. D., & Peradantha, I. B. G. S. (2019). Aesthetic Transformation in the Production Process of the Augmented Reality Folklore PASUA: Real-Time Performance. Journal of Urban Society’s Arts, 6(2 (Oktober)), 112–122.

Salmun, M. . (1942). Padalangan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Wiarsih, I. (1981). Pasinden Jeung Rumpakana: Juru Kawih Wayang Golek. Yayasan Kebudayaan Bandung. Williams, R. (1981). Culture. Fontana Paperbacks.

Wulandari, D. (2022). Nilai Spiritual Tari Bedhaya Sekarjagad di Sanggar Pakarjawi Semarang. Jurnal Joged, 19(1), 35–49.

B. Narasumber

Ella Nurlaela Ningsih, Pensiunan Dosen ASTI, STSI, dan ISBI Bandung

Iyus Rusliana, Tokoh Tari Wayang Priangan.Iwa Permana, Pemilik Mitra Seni Inten Dewangga.

Nandang Nugraha, Pemilik Nyentrik Production.

Neneng Tresna Wijaya, Pensiunan Guru SMK Negeri 10 Bandung.

Ni Made Suartini, Pensiunan Dosen ASTI, STSI, dan ISBI Bandung.

Toto Amsar Suanda, Pensiunan Dosen ASTI, STSI, dan ISBI Bandung




DOI: https://doi.org/10.24821/joged.v22i2.11273

Article Metrics

Abstract view : 0 times
PDF - 0 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


View My Stats