ANALISIS KOREOGRAFI TARI MELINTING LABUHAN MARINGGAI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR

Rahma Fatmala

Abstract


Tari Melinting adalah tari tradisional Lampung yang diciptakan oleh Ratu Melinting di Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung Timur pada abad ke-16. Tari ini ditarikan oleh delapan orang penari yang terdiri dari empat orang penari putra dan empat orang penari putri dengan pola lantai yang unik. Keunikan lainnya adalah kostum yang dipakai, yakni siger Melinting yang menutupi sebagian wajah penari perempuan, musik iringan,  dan properti yang dipakai yaitu kipas, Cara menggerakkan kipas, serta henjutan kaki penari menjadikan penulis tertarik untuk menganalisis koreografi tari ini. 

 
 Untuk menjawab permasalahan tersebut digunakan pendekatan koreografi dengan menganalisis teks koreografi melalui aspek bentuk, teknik dan isi, serta digunakan pendokumentasian motif gerak melalui notasi Laban. Aspek bentuk Tari Melinting terbagi menjadi empat bagian, bagian ini dapat ditandai dengan perubahan musik iringan, pola lantai, dan motif geraknya. Tari Melinting memiliki dua belas motif gerak. Gerak tersebut meliputi gerak babar kipas lapah tebeng, jong sumbah, balik palau, kenui melayang, mapang randu, ngiyau bias nginjak lado, sughung sekapan, salaman, timbangan, babar kipas suali, ngiyau bias nginjak tahi manuk, dan luncat kijang. 
 
Gerak Tari Melinting memiliki makna tentang kegagahan dan kelembutan putra putri Lampung. Gerak pada penari putra yang gagah dan lincah merupakan bentuk tanggung jawab lakilaki untuk menyejahterakan dan melindungi keluarga. Gerak pada penari putri yang lembut dan halus melambangkan kelembutan wanita Lampung. Serta gerak Tari Melinting memiliki ciri khas dalam geraknya yaitu terdapat efek enjutan ketika melakukan gerak Tari Melinting.

Melinting Dance is a traditional dance created by Lampung Ratu Melinting in Labuhan Maringgai East Lampung Regency in the 16th century. Melinting dance is categorized as a group dance composition, because it can be seen from the form of performances that are danced by eight dancers. Melinting Dance uses the fan property held by the dancers. Melinting Dance describes the valor of Lampung princess. Along with its development, Melinting Dance has changed the function of dance ceremony to dance entertainment. From the change of the function Melinging Labuhan Maringgai Dance undergoes choreography changes but does not eliminate the basic movements that have been there since the first. Clothing on Melinting Dance wearing traditional clothes Lampung with corrective makeup. The accompaniment of Melinting Dance uses three types of percussion / Lampung accompaniment.
 
In this case the main problem is the choreography analysis Dance Melinting Labuhan Maringgai East Lampung regency. To answer the problem then used a choreography approach by analyzing choreographic texts through aspects of form, technique and content, and used documentation motion motion through Laban notation. Aspects of the form Melinting Dance is divided into four parts, this section can be marked by changes in music accompaniment, floor patterns and motion motifs. Melinting Dance has twelve motive motifs. The motion includes babar kipas lapah tebeng, jong sumbah, balik palau, kenui melayang, mapang randu, ngiyau bias nginjak lado, sughung sekapan, salaman, timbangan, babar kipas suali, ngiyau bias nginjak tahi manuk, lompat kijang. On the motion of Melinting Dance has a meaning about the valor of Lampung daughter. The motion of a handsome and agile male dancer is a form of male responsibility for the welfare and protection of the family. The motion of the soft and delicate female dancer symbolizes the softness of the Lampung woman. As well as the motion of Melinting Dance has a characteristic in motion that there are effects of driving when doing motion Dance Melinting.


Keywords


Tari Melinting, Analisis Koreografi, Notasi Laban Melinting Dance, Choreography Analysis, Laban Notatio

Full Text:

PDF

References


Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lampung Timur. 2014. Diskripsi Tari Melinting & Irama Tabuh Kulintang. Lampung: tanpa penerbit. Fachrudin dan Haryadi. 2003. Falsafah Pi’il Pesenggiri sebagai Norma Tatakrama Kehidupan Sosial Masyarakat Lampung. Lampung: Proyek Pembinaan Kebudayaan Daerah Provinsi Lampung. Guest, Ann Hutchinson. 2005. Labanotation: The System Of Analyzing and Recording Movement. Edisi Keempat. New York: Theare Arts Books.

Hadi, Y. Sumandiyo. 2003. Aspek-aspek Dasar Koreografi Kelompok. Yogyakarta: Elkaphi Manthili.

_____________. 2007. Kajian Tari, Teks dan Konteks. Yogyakarta: Badan Pustaka ISI Yogyakarta ______________. 2011. Bentuk-Tekhnik-Isi. Yogyakarta: Badan Pustaka ISI Yogyakarta. Martiara, Rina. 2014. Cangget: Identitas Kultural Lampung Sebagai Bagian Dari Keberagaman Budaya Indonesia. Yogyakarta: Badan Penerbit ISI Yogyakarta. Mustika, I Wayan. 2012. Teknik Dasar Gerak Lampung. Lampung: AURA. SA. Sabaruddin. 2012. Lampung Pepadun dan Saibatin/Pesisir – Dialek O/Nyow dan Diialek A/Api. Lampung: Buletin Way Lima Manjau.

Smith, Jacqueline. Dance Composition: A Practical Guide for Teachers.Komposisi Tari: Sebuah Petunjuk Praktis Bagi Guru. Terjemahan Ben Suharto. 1985, Yogyakarta: Ikalasti.

Soedarsono. 1978. “Notasi Laban”. Jakarta: Direktorat Pembinaan Kesenian Ditjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sumaryono. 2016. Antropologi Tari Dalam Perspektif Indonesia. Yogyakarta: BP ISI Yogyakarta.

Sutopo, F.X. (ed). 1986. Pengetahuan Elementer Tari dan Beberapa Masalah Tari. Jakarta: Dierktorat Kesenian Jakarta.




DOI: https://doi.org/10.24821/joged.v10i1.2810

Article Metrics

Abstract view : 1592 times
PDF - 2765 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


View My Stats