MAKNA DAN SIMBOL TARI KIAMAT PADA MASYARAKAT KERATUAN DARAH PUTIH DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

Marisa Marisa

Abstract


Tari Kiamat merupakan satu tarian yang hidup dan berkembang pada masyarakat adat Keratuan Darah Putih di Desa Kuripan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan di Provinsi Lampung. Tari Kiamat adalah tarian penutup dari ruwah atau syukuran tujuh hari tujuh malam perkawinan pihak Keratuan Darah Putih yang disebut Nuhot atau Nyambai. Upacara ini dilaksanakan bersamaan dengan pengukuhan adok atau gelar adat tertinggi yang merupakan satu bagian penting dalam upacara pernikahan pada Keratuan Darah Putih. Tari Kiamat memiliki fungsi sebagai penutup atau sebagai akhir segala proses rangkaian upacara, merupakan bentuk rasa syukur dan rasa terima kasih atas kerja sama para punggawa, penyimbang, dan masyarakat adat Keratuan Darah Putih di Desa Kuripan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan dalam mendukung seluruh rangkaian acara. Pokok permasalahan penelitian ini adalah makna dan simbol Tari Kiamat pada masyarakat Keratuan Darah Putih, yang dipecahkan dengan teori Ferdinand De Saussure terkait petanda dan penanda yang merupakan kunci dalam pengungkapan analisis makna terhadap simbol-simbol yang ada pada Tari Kiamat. Makna-makna yang telah didapatkan nantinya akan dikaitkan dengan adanya relasi sistem kemasyarakatan pada masyarakat Keratuan Darah Putih. Hasil analisis data dalam penemuan makna dari simbol-simbol pada Tari Kiamat menunjukkan relasi sistem kemasyarakatan Keratuan Darah Putih. Hal tersebut dikaitkan dengan kehidupan masyarakat Keratuan Darah Putih yang hidup dengan berpedoman pada Piil pesenggiri yang juga merupakan bagian dari pedoman kehidupan masyarakat Lampung. Seluruh keterkaitan tersebut diterangkan dalam bentuk penyajian Tari Kiamat yang disuguhkan sebagai tarian yang sakral karena hanya boleh ditarikan oleh keturunan atau atas seizin dari pihak Keratuan Darah Putih. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya bentuk Tari Kiamat dalam acara ruwah perkawinan adat Keratuan Darah Putih yang umumnya hanya terjadi pada kurun waktu 20 – 30 tahun sekali.

 

ABSTRACT

Kiamat dance is one of the dances that lives and develops in the indigenous people of the White Blood Association in Kuripan Village, Penengahan District, South Lampung Regency in Lampung Province. Doomsday dance is a closing dance from Ruwah or Thanksgiving for seven days and seven nights of marriage, the White Blood Association called Nuhot or Nyambai. This ceremony is held in conjunction with the inauguration of adok or the highest customary title which is an important part of the wedding ceremony at the White Blood Association. Kiamat dance has a function as closing or as the end of all the process of a series of ceremonies. Kiamat Dance is a form of gratitude and gratitude for the cooperation of the retainer, balancer, and indigenous people of the White Blood Association in Kuripan Village. Penengahan Subdistrict, South Lampung Regency in supporting the whole series of events. The main question of this research is the meaning and symbol of the Kiamat Dance in the White Blood Society. This problem can be solved through the use of theory by Ferdinand De Saussure regarding markers and markers which are key in the disclosure of meaning analysis of symbols that exist in Kiamat Dance. The meanings obtained will be presented with a community relations system in the White Blood Society. The results of data analysis in the discovery of the meaning of the symbols on Doomsday Dance show the relation of the social system of the White Blood Unity. This is related to the lives of the people of the White Blood Society who live by referring to Piil Pesenggiri, which is also part of the life guidelines of Lampung people. All of these linkages are accepted in the form of presenting the Doomsday Dance which is presented as a sacred dance because it is only permitted for people who have permission from the White Blood Association. This is evidenced by the form of Doomsday Dance in the event of the traditional marriage ceremony for the White Blood Association which can be done once every 20-30 years.


Keywords


Tari Kiamat, Keratuan Darah Putih, Lampung Selatan | Kiamat Dance, White Blood Unity, South Lampung

Full Text:

PDF

References


A. Sumber Tertulis

Ahimsa-Putra, Heddy Shri. 2001. Strukturalisme LeviStrauss Mitos dan Karya Sastra. Yogyakarta: Galang Press.

Ali, Matius. 2011. Estetika: Pengantar Filsafat Seni. Tangerang: Sanggar Luxor.

Bahri, Syamsul, Destika Mulyasari. 2018. Kabupaten Lampung Selatan Dalam Angka 2018. BPS Kabupaten Lampung Selatan.

Budiman, Kris. 2011. Semiotika Visual: Konsep, Isu, dan problem ikonisitas. Yogyakarta: Jalasutra Anggota IKAPI.

Dana, I wayan. 2014. Melacak Akar Multikulturalisme di Indonesia Melalui Rajutan Kesenian. Yogyakarta: Cipta Media bekerja sama dengan ISI Yogyakarta.

Departemen Agama RI. 2007. Al-quran dan Terjemahannya. Bandung: PT Sygma Examedia Arkanleema.

Dinas Pariwisata Kebudayaan Lampung Selatan. 2015. Cerita Sejarah Lampung Selatan. Lampung.

Geertz, Clifford. 1974. The Interpretation of Cultures: Selected Essays, London, Hutchinson & CO Publisher, Terjemahan oleh Francisco Budi Hardiman, 1992. Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta: Kanisius.

Hadi, Y. Sumandiyo. 2018. Revitalisasi Tari Tradisional.Cipta Media: Yogyakarta.

Hersapandi. 2017. Metode Penelitian Tari. Yogyakarta: Badan Penerbit ISI: Yogyakarta.

Irianto, Agus Maladi. 2015. Interaksionisme Simbolik. Semarang: Gigih Pustaka Mandiri.

Liliweri, Alo. 2002. Makna Budaya Dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Aksara.

Littlejohn, Stephen W. 2011. Teori Komunikasi. Jakarta: Salemba Humanika.

Martiara, Rina. 2012. Nilai dan Norma Budaya Lampung dalam Sudut Pandang Strukturalisme. Yogyakarta: Badan Penerbit ISI Yogyakarta.

Martiara, Rina. 2014. Cangget: Identitas Kultural Lampung Sebagai Bagian Dari Keragama Budaya Indonesia. Yogyakarta: Badan Penerbit ISI Yogyakarta.

Mustika, I Wayan. 2012. Tehnik Dasar Gerak Tari. Elex Media Komputindo.

Mustika, I Wayan. 2013. Tari Muli Siger. Bandar Lampung: Anugrah Utama Raharja (AURA).

Soedarsono. 1977. Tari-Tarian Indonesia 1. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Ditjen Kebudayaan, Depdikbud.

Soedarsono. 2004. Pengantar Pengetahuan dan Komposisi Tari. Yogyakarta: ASTI.

Sudjiman, Panuti dan Aart Van Zoest. 1992. SerbaSerbi Semiotika. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sulasman dan Setia Gumilar. 2013. Teori-Teori Kebudayaan dari teori hingga aplikasi. Bandung: CV Pustaka Setia.

Sumardjo, Jakob. 2006. Estetika Paradoks. Bandung: Sunan Ambu Press: STSI Bandung.

Sumaryono. 2011. Antropologi Tari Dalam Perspektif Indonesia. Badan Penerbit ISI Yogyakarta: Yogyakarta.

Spradley, James P. 1997. Metode Etnografi. Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya.

Turner, Victor. 2011. From Ritual to Theatre: The Human Seriousness of Play, New York: PAJ Publication, Terj. St Hanggar Budi Prasetya. 1980. Dari Ritual ke Teater. Yogyakarta: DIPA

ISI Yogyakarta.

Wulandari, Mustika. 2016. “Tari Kiamat Dalam Pendidikan Nonformal Di Sanggar Intan Desa Kuripan Kabupaten Lampung Selatan”. Skripsi guna memperoleh gelar Sarjana Strata 1 Pendidikan, Program Studi Seni Drama, Tari, dan Musik Universitas Lampung.

B. Narasumber

Budiman Yakub, 61 tahun, pengajar, tokoh adat selaku penasihat dan juru bicara Keratuan Darah Putih dengan gelar Raden Kesuma Yuda dikediamannya Kuripan, Lampung Selatan pada tanggal 16 Januari 2019.

MustikaWulandari, 23 tahun, pengajar, tokoh adat selaku puteri keturunan Keratuan Darah Putih Kuripan, Lampung Selatan pada tanggal 16 Januari 2019.

Ridwan, 52 tahun, PNS, selaku pelatih Tari Kiamat Sanggar Intan Kuripan di Taman Budaya Provinsi Lampung pada tanggal 20 juli

Yoga Pramana Aji, honorer Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, tokoh adat dengan gelar Raden Mas Kesuma Ratu pada tanggal 8 Februari 2019.

C. Webtografi

http://www.lampost.co/berita-kisah-sang-ratudalam-tarian-kiamat11Februari2018.

http://textid.123dok.com/document/oz13843q-tarikiamat-dalam-pendidikan-nonformal-disanggar-intan-desa-kuripan-kabupatenlampung-selatan.html Mustika Wulandari2016.

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Marga_di_Lampung

http://yusack.blogspot.com/2010/11/psikologiwarna_12.html?=1

https://norisanto.com/arti-dan-makna-simbol-hewan/

D. Diskografi

https://youtu.be/y-yu1kP9dvl

(Tari Kiamat Lampung Care Unila) diunduh pada tanggal 16 Januari 2018.

https://youtu.be/dovvc_-zZ30

(TARI KIAMAT Dari Keratuan Darah Putih Desa

Kuripan kec. Penengahan lam-sel). Dipublikasikan tanggal 21 Mei 2018.

https://youtu.be/AXgWx_hF_00

(TARI KIAMAT-KERATUAN DARAH PUTIH)Koleksi pribadi latihan Tari Kiamat Sanggar Intan Kuripan pada tanggal 03 Maret 2018.




DOI: https://doi.org/10.24821/joged.v15i1.4663

Article Metrics

Abstract view : 783 times
PDF - 191 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


View My Stats