Kaki Manusia Sebagai Objek Estetik Penciptaan Fotografi Seni

Dira Herawati

Abstract


Abstrak
Laporan pertanggungjawaban adalah deskripsi tertulis pengalaman kreatif seorang seniman
atau fotografer dalam upaya eksplorasi estetika pada gambar dan gagasan manusia sebagai
stimulan dasar bagi penciptaan karya seni fotografi. Kaki manusia sebagai objek estetika adalah
masalah yang berhubungan dengan berbagai fenomena yang terjadi di bidang sosial, budaya,
dan politik di Indonesia saat ini. Berdasarkan hubungan ini, kaki manusia akan dirumuskan
sebagai gambar yang memiliki nilai, dan kesan tersendiri dalam penciptaan sebuah karya seni
fotografi. Oleh karena itu, penciptaan seni fotografi ini berjudul Kaki Manusia sebagai Objek
Estetik Penciptaan Seni Fotografi. Dari latar belakang ini, kaki sebagai seni fotografi objek
pilihan, akan dikelola secara kreatif dan sistematis melalui tahapan penciptaan. Fase penciptaan
terdiri dari: (1) eksplorasi wacana, (2) eksplorasi artistik, (3) tahap elaborasi fotografi, (4) tahap
sintesis, dan (5) tahap penyelesaian. Metodis, melalui tahapan proses kreatif di mana dirumuskan
dalam berbagai bentuk gambar artistik dari kaki manusia. Berbagai bentuk gambar artistik yang
dihasilkan dari endapan dari proses penciptaan, dapat disimpulkan sebagai objek estetika dalam
karya-karya fotografi seni. Hal ini secara khusus ditandai dengan pembentukan ‘pencitraan lain
di balik gambar kaki terlihat, serta dari berbagai bentuk citra baru’ sebagai hasil dari eksplorasi
artistik gambar umum kaki. Secara umum, seluruh gambar dari kaki dalam karya fotografi seni
memiliki hubungan reflektif dengan situasi sosial, budaya, dan politik yang berkembang dalam
masyarakat Indonesia, yang mengandung nilai, makna, dan kesan.

 

Human Foot as Aesthetic Object Creation Art Photography. Accountability report is a written
description of creative experiences as an artist or a photographer of aesthetic exploration efforts
on the image and the idea of a human as a basic stimulant for the creation of works of art
photography. Human foot as an aesthetic object is a problem that relates to various phenomena
that occur in the social sphere, culture and politics in Indonesia today. Based on these linkages,
human feet would be formulated as an image that has a value, and the impression of eating
alone in the creation of a work of art photography. Hence the creation of this art photography
entitled The Human Foots as Aesthetic Object Creation of Art Photography. Starting from this
background, then the legs as an option object art photography, will be managed creatively and
systematically through a phases of creation. The creation phases consist of: (1) the exploration
of discourse, (2) artistic exploration, (3) the stage of elaboration photographic, (4) the synthesis
phase, and (5) the stage of completion. Methodically, through the phases of the creative process
through which this can then be formulated in various forms of artistic image of a human foot. The
various forms of artistic images generated from the foots of its creation process, can be summed
up as an object of aesthetic order in the photographic works of art. It is specifically characterized
by the formation of ‘imaging the other’ behind the image seen with legs visible, as well as of the
various forms of ‘new image’ as a result of an artistic exploration of the common image of legs
visible. In general, the whole image of the foot in a photographic work of art has a reflective
relationship with the social situation, cultures, and politics that developed in Indonesian society,
by value, meaning and impression that it contains.


Keywords


human foot, aesthetic; social phenomena; art photography; images

Full Text:

PDF

References


Ardiansyah, Yulian. 2005. Tips & Trik Fotografi:

Teori dan Aplikasi Belajar Fotografi.

Jakarta: PT Gramedia Widiasarana

Indonesia.

Barthes, Roland. 2010. Membedah

Mitos-Mitos Budaya Massa.

Terjemahan Ikramullah Mahyuddin.

Yogyakarta: Jalasutra,.

_____________. 1964. Element of Semiology.

Translate by Annette Lavers & Collin

Smith. New York, USA: Hill & Wang.

Barton, Will, & Andrew Beck. 2010. Bersiap

Mempelajari Kajian Komunikasi,

terjemahan Ikramullah Mahyuddin.

Yogyakarta: Jalasutra.

Berger, Arthur Asa. 2010. Pengantar Semiotik:

Tanda-Tanda dalam Kebudayaan

Kontemporer. Terjemahan M. Dwi

Marianto. Yogyakarta: Penerbit Tiara

Wacana.

Budiman, Kris. 1999. Kosa Semiotika.

Yogyakarta: Penerbit LKiS.

____________. 2011. Semiotika Visual:

Konsep, Isu dan Problem Ikonitas.

Yogyakarta: Jalasutra.

Danesi, Marcel. 2010. Pesan Tanda dan Makna.

Terjemahan Evi Setyarini dan Lusi

Lian Piantari. Yogyakarta: Jalasutra.

Davis, Howard & Paul Walton. 2010. Bahasa,

Citra, Media. Terjemahan M. Dwi

Marianto. Yogyakarta: Jalasutra.

Eagleton, Terry. 1990. The Ideology of

Aesthetic. Oxford, OX4, IJF, UK:

Basil Blackwell Ltd.

Fiske, Jhon. 1990. Indtroduction to

Communication Studies, Second

Edition. London & New York:

Routledge.

Hartley, Jhon. 2010. Communication, Cultural,

& Media Studies: Konsep Kunci.

Terjemahan Kartika Wijayanti.

Yogyakarta: Jalasutra.

Hawkins, Alma M. 1991. Moving From Within:

A New Method for Dance Making atau

Bergerak Menurut Kata Hati, Metode

Baru dalam Menciptakan Tari.

Terjemahan I Wayan Dibia. 2003.

Jakarta: Masyarakat Seni Pertunjukan

Indonesia.

Hartoko, Dick & B. Rahmanto. 1998. Kamus

Istilah Sastra. Yogyakarta: Penerbit

Kanisius.

Hidayatullah, A. Taufik. 2009. Kreasi Cepat

Manipulasi Foto Digital. Surabaya:

Penerbit Indah.

Martinet, Jeanne. 2010. Semiologi: Kajian

Tanda Saussuran. Terjemahan

Stephanus Aswar Herwinarko.

Yogyakarta: Jalasutra.

Mulyana, Dedi. 2000. Ilmu Komunikasi:

Pengantar. Bandung: Penerbit Remaja

Rosdakarya.

Nardi, Leo. 1989. Penunjang Pengetahuan

Fotografi. Bandung: Penerbit Fotina

Fotografika.

O’Donnell, Kevin. 2009. Sejarah Ide-Ide.

Terjemahan Jan Riberu. Yogyakarta:

Penerbit Kanisius.

Richard D., Zakia. 2002 dalam Soeprapto

Soedjono, “Resensi Buku: Wacana

Persepsi Visual” dalam SENI, Jurnal

Pengetahuan dan Penciptaan Seni.

Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

Soedjono, Soeprapto. 2007. Pot-Pouri

Fotografi. Jakarta: Penerbit Trisakti.

Soekojo, Makarios. 2007. Dasar Fotografi

Digital. Jakarta: PT Prima Infosarana

Media.

Sugiarto, Atok. 2009. Kamus Pinter Fotografer.

Jakarta: Penerbit Erlangga.

Sumardjo, Jakob. 2000. Filsafat Seni. Bandung:

Penerbit ITB.

_____________. 2010. Estetika Paradoks.

Bandung: Sunan Ambu Press, STSI

Bandung.

Sumartono. 1992. “Orisinalitas Seni Rupa

Indonesia” SENI, Jurnal Pengetahuan

dan Penciptaan Seni No. II/02, BP ISI

Yogyakarta.

Susanto, Mikke. 2004. Menimbang Ruang

Menata Rupa: Wajah dan Tata

Pameran Seni Rupa. Yogyakarta:

Galang Press.

Zoest, Aart Van. 1991. Fiksi dan Nonfiksi dalam

Kajian Semiotik. Jakarta: Intermasa.

Webtografi

Tvone, (24 Maret 2012) http://video.tvonenews.

tv/

Republika Online, (16 April 2012) http://www.

republika.co.id/

Jean Hasan, (23 April 2012) http://

jeanotnahasan.blogspot.com/

Inilah Koran, (23 April 2012) http://www.

inilahkoran.com /

Mckee Photo, (23 April 2012) http://

mckeephoto.photoshelter.com/

Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan

(KBBI Daring), (5 Desember 2012)

http://badanbahasa.kemdiknas.go.id/

kbbi/




DOI: https://doi.org/10.24821/rekam.v10i1.3243

Article Metrics

Abstract view : 134 times
PDF - 172 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License

View Rekam Stats