Strategi Pengembangan Kawasan Wisata Pasar Terapung Berbasis Kearifan Lokal di Kota Banjarmasin

Desy Sugianti

Abstract


Banjarmasin dalam dunia kepariwisataan di Indonesia terkenal dengan kota seribu sungai. Sebagai salah satu daerah di Indonesia yang memiliki aliran sungai terbanyak membuat Banjarmasin juga dikenal sebagai kota dengan daya tarik pasar terapungnya. Di Kota Banjarmasin, pasar terapung yang dikenal luas oleh masyarakat dan sempat menjadi tema dari jargon salah satu televisi swasta di Indonesia adalah keberadaan Pasar Terapung Kuin. Seiring perkembangan zaman, kondisi Pasar Terapung Kuin saat ini mengalami kemunduran perkembangan. Banyak media baik online maupun surat kabar terbitan memberitakan tentang sepinya pembeli dan menurunnya jumlah pedagang yang berjualan di Pasar Terapung Kuin. Hal tersebut dikonfirmasi pula oleh beberapa pedagang yang tetap berjualan di Kuin. Melihat dari permasalahan tersebut kemudian pemerintah setempat melakukan tindakan guna menghidupkan kembali budaya sungai yang melekat erat sebagai image Kota Banjarmasin dengan membangun pasar terapung yang berada tepat berseberangan dengan titik 0 (nol) kilometer Kota Banjarmasin serta beberapa atraksi wisata lain di sekitar pasar terapung tersebut. Namun, sejak kehadiran Pasar Terapung Siring, jumlah kunjungan yang didata oleh pengelola menunjukkan adanya kesenjangan angka. Dimana Pasar Terapung Siring mampu mendatangkan tamu dengan angka mencapai sekitar 56.000-an (lima puluh enaman ribu), sementara kawasan Pasar Terapung Kuin hanya mampu menempati angka tertinggi dalam 1 tahun sebesar 3.000-an (tiga ribuan) pengunjung. Maka berdasarkan paparan tersebut dalam penelitian ini dilakukan pendekatan dengan metode penelitian triangulasi, menggunakan analisis kualitatif deskriptif dan analisis SWOT yang bertujuan untuk mengidentifikasi pengelolaan kawasan Pasar Terapung Kuin dan Siring untuk kemudian memformulasi strategi pengembangan kawasan pasar terapung di Banjarmasin. Dalam temuan penelitian berdasarkan hasil analisis kualitatif yang dilakukan, ditemukan bahwa; sistem pengelolaan terhadap Pasar Terapung Kuin dan Siring memiliki perbedaan yaitu; infrastruktur yang dikembangkan lebih banyak dilakukan di Siring, peran serta masyarakat yang terlibat dalam mengelola kepariwisataan pasar terapung juga lebih terorganisir di Siring. Sementara untuk kawasan Kuin belum adanya organisasi atau asosiasi resmi yang dibentuk oleh warga sekitar guna menjalankan program pengelolaan dan pengembangan kawasan dalam usaha untuk menghidupkan kembali budaya sungai di Banjarmasin. Arahan strategi berdasarkan analisis SWOT adalah kawasan wisata pasar terapung di Banjarmasin idelanya memiliki strategi dalam hal penambahan produk, pasar dan fungsi-fungsi kawasan serta melakukan pemanfaatan kekuatan dan peluang yang dimiliki. Strategi pengembangan terhadap kawasan pasar terapung di Banjarmasin mampu dikembangkan dan dapat menjalankan strategi yang bersifat ofensif. Banjarmasin in the world of tourism in Indonesia known as the city of a thousand rivers. Banjarmasin is one of the areas in Indonesia that has the most river flow so that makes Banjarmasin also known as a city who has Floating Market. In the city of Banjarmasin, Floating Market (Kuin Floting market) widely known by the public after appeared in one of television in Indonesia as their theme of television slogan. Currently, Kuin floating market condition is on a decline in development. Many media such as online and newspaper published preach about the less of buyers and the declining number of traders who sell in Kuin Floating Market. It is also confirmed by some traders who keep selling in Kuin. Based on that case then the local government taken the action to revive the culture of the embedded river as the image of Banjarmasin City by builded a floating market that is near to the center of the city and became a part of tourist attractions in Banjarmasin. However the number of visitors that recorded by the manager shown a gap between Kuin and Siring. Where Siring floating market can bring guests with numbers reaching 56.000 visitors but Kuin floating market area is only able to occupy the highest lift in 1 year of 3.000 visitors. So based on that case, this research approached with trianggulation research method, using descriptive qualitative analysis and SWOT analysis which aims to identify the management of Kuin and Siring floating market area and then make a formulation of the development strategy of Floating Market area in Banjarmasin. This research found that; the management system of Kuin and Siring floating market has the difference action; Many Infrastructure developed has done in Siring, the participation of communities involved in managing tourism of the floating market and makes Siring also more organized. However, Kuin area hasn’t official organization or association formed by local people to run the program of management and development of the area in an effort to revive the river culture in Banjarmasin. Strategy directives based on SWOT analysis are; Floating market tourism area in Banjarmasin ideally has a strategy in terms of addition of products, markets and functions of the region by using their strengths and opportunities. Development strategy for floating market area in Banjarmasin could be able to develop and run the offensive strategy.

Keywords


pasar terapung, pengelolaan, pengembangan kawasan, Banjarmasin; floating market, management, area development, Banjarmasin

Full Text:

PDF

References


AdarshBatra. 2014. Jurnal Floating Markets: Balancing the Needs of Visitors

as a Tourist

Attraction and Locals Way of Life. A Case Study of Talingchan Floating Market,

Bangkok Thailand. World Applied Sciences Journal 30 (Innovation Challenges in

Multidiciplinary Research & Practice): 332-343.

Allison, Michael dan Jude Kaye. Perencanaan Strategis bagi Organisasi Nirlaba: Pedoman

Praktis dan Buku Kerja. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Assauri, Sofjan. 2016. Strategic Management; Suistainable Competitive Advantages. Jakarta:

Rajawali Pers.

Badan Penelitian dan Pengembanagn Kalimantan Selatan. 2003.

Budiarta, K., & Thamrin, Z. 2013. Kajian tentang industri kreatif sebagai pengembangan

UMKM unggulan Kota Medan. Jurnal Pembangunan Kota, 1(1), 1- 30.

Dalrymple, Douglas J. & Leonard J. Parsons. 2000. Basic Marketing Management, Second

Edition. New York: John Wiley & Sons.

Departemen Perdagangan Republik Indonesia. 2008. Pengembangan Ekonomi Kreatif

Indonesia 2025: Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif 2009

‐2015. Retrieved from

Jakarta:

Dwi Susanti, I. A. M., Darmawan, Dwi Putra., Astiti, N. W. Sri. 2014. StrategiPengembangan Pasar tradisional Kertha, Desa Kesiman Kertalangu, Kecamatan

Denpasar Timur. Jurnal Manajemen Agribisnis 2(1) 11-21.

Eriyanto. 2015. Analisis Isi; Pengantar Metodologi untuk Penelitian Ilmu Komunikasi danIlmu-ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Prenadamedia Group.

I Putu Gede Sukaatmadja,

Ni Nyoman Kerti Yasa, Henny Rahyuda, I.G.A. Ngr. JayaWidagda. 2014. Strategi pengembangan pasar tradisional berbasis kearifan lokal untuk

mengentaskan kemiskinan di Bali. Jurnal Manajemen; Strategi Bisnis danKewirausahaan 8(2) 121-129.

Kartajaya, Hermawan dan Sapta Nirwandar. 2013. Tourismn Marketing 3.0: Turning Touristto Advocate. Jakarta: PT. Gramedia.

Kartini La Ode Unga, I Made Benyamin dan Roland Alexander Barkey. 2011. Strategi

Pengembangan Kawasan Wisata Kepulauan Banda.

Damayanti, Maya, Latifah. 2015. Strategi Kota Pekalongan dalam Pengembangan WisataKreatif Berbasis Industri Batik. Jurnal Pengembangan Kota 3(2), 100-111.

Nawawi, Hadari. 2012. Manajemen Strategik Organisasi Nonprofit Bidang Pemerintahan.

Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Neuman, W. Lawrence. 2013. Metodologi Penelitian Sosial: Pendekatan Kualitatif danKuantitatif. Jakarta: Indek Permata Puri Media.

Nirwandar, Sapta. 2014. Building Wow: Indonesia Tourism and Creative Industry. Jakarta:

PT. Gramedia.

Ohridska-Olson, R., & Ivanov, S. (2010, September 24). Creative tourism business model

and its application in Bul- garia. Proceedings of the Black Sea Tourism Forum “CulturalTourism – the Future of Bulgaria”, Varna.

Priyatmono, Alpha Febela. 2012. Pengembangan Pariwisata Kreatif Berbasis Komunitas Dan

Budaya Lokal, (Studi Kasus Kampung Perhiasan Njayengan Surakarta). Simposium

Nasional Xi FT UMS 18-24.

Primadany, Sefira Ryalita., Mardiyono, Riyanto, 20xx. Analisis strategi pengembanganpariwisata daerah (Studi pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Daerah Kabupaten

Nganjuk). Jurnal Administrasi Publik 1(4) 135-143.

Rangkuti, Freddy. 2015. Analisis SWOT: Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.

Sejarah Banjar. 2003. Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi KalimantanSelatan.

Solihin, Ismail. 2004. Pengantar Manajemen. Jakarta: Erlangga.

Sobur, Alex. 2003. Psikologi umum. Bandung: Pustaka Setia.

Tan, S. K., Luh, D. B., & Kung, S. F. 2014. A Taxonomy of Creative Tourists in CreativeTourism. Tourism Management, 42(0), 248-259.

Utama, I Bagus Rai & Mahadewi, Ni Made Eka. 2012. Metode Penelitian pariwisata &Perhotelan. Yogyakarta: Andi Offset.

Wattanacharoensil, Walanchalee, Malinvisa Sakdiyakorn. 2015. The Potential of Floating

Markets for Creative Tourism: A Study in Nakhon Pathom Province, Thailand. Asian

Pasific Journal of Tourism Research.

Widadio, N. A. (2014, 02 April). Menparekraf: Perkembangan Pariwisata Indonesia Paling

Bagus. Kompas. Retrieved from http://travel.kompas.com/read/2014/04/02/0

/Menparekraf.Perkembangan.Pariwisat a.Indonesia.Paling.Bagus

Yoeti, Okta A. 2016. Perencanaan dan Pengembanagan Pariwisata. Jakarta: PT. Balai

Pustaka.

https://banjarmasinkota.bps.go.id/

http://bappeda.kalselprov.go.id

http://www.bppaudnibanjarbaru.org

www.hukumonline.com

pedagangpasar.org

www.share.its.ac.id




DOI: http://dx.doi.org/10.24821/jtks.v2i2.1820

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Alamat Redaksi:

Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Jalan Suryodiningratan 8 Yogyakarta 55143, Indonesia

Telp./Fax: 0274 419791 email: tatakelolasenijurnal@gmail.com

 

 

 

 

Web
Analytics