AKULTURASI ESTETIKA SEBAGAI MODAL UNTUK MENGHADAPI PERTUKARAN KESENIAN DALAM MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (Sebuah Kajian Holistik Terhadap Perkembangan Kesenian Modern di Indonesia)

Vedy Santoso

Abstract


Masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) adalah program kerjasama internasional yang menjadi usaha negara-negara anggota ASEAN untuk memperluas pasar. Dengan terjalinya kerjasama di segala bidang termasuk seni dan budaya, maka kesenian akan memasuki era konseptual “baru”. Sebuah era yang secara ekonomi penting dan berharga secara personal. Nilai keindahan seni (estetika) akan dihadapkan oleh tuntutan nuansa fantastis namun juga harus menarik secara emosional. Selain itu, masyarakat penyangga pada era konseptual ini memiliki corak maya yang hidup dalam dunia yang penuh dengan simulasi. Sehingga untuk menghadapi MEA diperlukan faktor daya modal sebagai benteng pertukaran seni. Metode holistik dalam penelitian ini digunakan untuk : (1) Menjelaskan konsep akulturasi estetika sebagai sebuah toleransi masyarakat dalam berbudaya dengan pendekatan sosio-historis, (2) Menganalisis hubungan perkembangan teknologi informasi dengan kesenian modern yang telah melampaui batas-batasnya dan menjalar keseluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat modern dari sudut pandang konvensi komunikasi massa. Data penelitian diperoleh dari pengamatan terhadap fenomena munculnya budaya populer di Indonesia, objek materi kesenian modern dan studi pustaka. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa akulturasi estetika dapat menjadi daya modal alternatif dalam proses pertukaran seni dan interaksi sosial masyarakat ekonomi ASEAN. Namun dengan catatan kerjasama internasional yang dilakukaan merupakan sebuah aktivitas pertukaran dalam perspektif pasar yang berarti tempat bertemunya penjual dan pembeli dengan tujuan yang saling menguntungkan. Bukan sebuah perdagangan dengan tujuan untuk saling menguasai yang berpotensi pada penjajahan. ASEAN Economic Community (AEC) is a program of international cooperation into the business of ASEAN member countries to expand the market. With coop- eration in all fields including the arts and culture, it will enter the era of conceptual art “new”. An era which are economically important and valuable personal. The value of the beauty of art (aesthetics) to be confronted by the demands of the fantastic shades, but also must be emotionally appealing. In addition, public support on this conceptual era has a style of living in a virtual world filled with simulations. So, as to face the AEC required power factor capital as a bastion of art exchange. Holistic method in this study is used for: (1) explain aesthetics acculturation concept as a culture of tolerance in the society with the socio-historical approach, (2) analyze the relationship development of information technology and artistry that has gone beyond limits and spread throughout the joints of modern society from the standpoint of mass communication convention. Data were obtained from observations of the phenomenon of the rise of popular culture in Indonesia, material objects of art and literature. The study showed that acculturation aesthetics can be an alternative capital in the process of artistic exchange and social interaction ASEAN economic community. But with a record of international cooperation is an activity in the exchange market perspective, which means meeting place for sellers and buyers with mutually beneficial goals. Not a trade aimed at mutual control of potential colonization.

Keywords


masyarakat, estetika dan akulturasi; community, aestethic and acculturation

Full Text:

PDF

References


Aziz, Imam. 2001. Galaksi Simulacra. Yogyakarta: LkiS.

Bagus Lorens. 2005. Kamus Filsafat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama cetakan ke

empat, Chistiane Paul. 2015. Digital Art. New York: Thames & Hudson.

Denys Lombard, Terj. Winarsih Partaningrat Arifin, Rahayu S. Hidyat, Nini Hidayati

Yusuf.2008. Nusa Jawa: Silang Budaya, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Haryatmoko. 2010. “Teori Strukturasi Pierre Bourdieu dengan Orientasi Budaya”.

(Makalah) dipresentasikan di Pascasarjana Sosiologi Universitas Indonesia pada

tanggal 26 Agustus 2010.

Koentjaraningrat. 1976. Pengantar Ilmu Antropologi Yogyakarta: Yayasan Obor

Krisna Murti. 2009. Essays on Video Art and New Media: Indonesia and Beyond,

Yogyakarta: IVAA.

Kuntowijoyo. 1987. Budaya dan Masyarakat, Yogyakarta: Tiara Wacana. Matius Ali,

Estetika. Tanggerang: Sanggar Luxor.

M. Agus Burhan. 2013. Seni Lukis Indonesia Masa Jepang Sampai Lekra, Surakarta:UNS

Press.

M. Burhan Bungin. 2008. Sosiologi Komunikasi, Jakarta: Kencana Predana Media.

Misbach Yusa Biran. 2009. Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di Jawa. Depok:

Komunitas Bambu.

Theodor W. Adorno. 2002. Translator’s introduction by Robert Hullot-Kentor, Aesthetic

Theory. London: Continum.




DOI: https://doi.org/10.24821/invensi.v1i1.1604

Article Metrics

Abstract view : 217 times
PDF - 308 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Alamat Redaksi/Tata Usaha

Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Jl. Suryodiningratan No. 8 Yogyakarta 55143

Tlp/Fax : (0274) 419791

e-mail : isijurnalinvensi@gmail.com

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

 

View my stat