Transformasi Teks Sejarah Pertempuran Kotabaru ke dalam Teks Beksan Bedhaya Ngadilaga Kotabaru

Susi Setyaningsih

Abstract


Beksan Bedhaya Ngadilaga Kotabaru merupakan karya tari yang menggunakan sumber materi dramatik fakta sejarah pertempuran 7 Oktober 1945 di Kotabaru, Yogyakarta. Dilihat dari motif geraknya tarian ini menggunakan pola-pola gerak dalam tari putri gaya Yogyakarta. Permasalahan yang ingin dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana fakta sejarah pertempuran Kotabaru ditransformasikan ke dalam sebuah karya tari, yaitu Beksan Bedhaya Ngadilaga Kotabaru.

            Identifikasi teks sejarah pertempuran Kotabaru dan teks Beksan Bedhaya Ngadilaga Kotabaru akan disandingkan dan dikaji untuk diketahui aspek apa saja yang bertransformasi. Dengan menggunakan teori interteks peneliti akan mengungkap permasalahan dan memberikan penjelasan tentang unsur-unsur intrinsik yang meliputi masalah pokok dan tema, setting/latar, alur, penokohan, dan nilai-nilai untuk melihat proses transformasinya. Unsur-unsur intrinsik pada teks bedhaya di Keraton Yogyakarta, teks sejarah pertempuran Kotabaru, serta teks Beksan Bedhaya Ngadilaga Kotabaru dianalisis untuk diketahui model-model transformasinya.

            Hasil analisis kedua teks yang disandingkan membuktikan adanya unsur-unsur yang sama dan ditafsir sebagai unsur-unsur yang bertransformasi dari teks sejarah pertempuran Kotabaru ke dalam teks Beksan Bedhaya Ngadilaga Kotabaru. Kelima unsur yang bertransformasi dari teks sejarah pertempuran Kotabaru ke dalam teks Beksan Bedhaya Ngadilaga Kotabaru merupakan bukti adanya resepsi yang baik oleh penata tari dalam menyusun Beksan Bedhaya Ngadilaga Kotabaru. Transformasi yang ditemukan dalam penelitian ini yakni transformasi yang bersifat meneruskan/melanjutkan hipogramnya dan transformasi yang bersifat mematahkan hipogramnya.

 

Beksan Bedhaya Ngadilaga Kotabaru is a dance piece that uses a material source of dramatic historical facts October 7, 1945 battle in Kotabaru , Yogyakarta. Viewed from this dance motif motion patterns of movement in dance style princess Yogyakarta. The problems to be examined in this study is how the battle Kotabaru historical fact transformed into a dance work , namely Beksan Bedhaya Ngadilaga Kotabaru .

            Identification of historical text battle on Kotabaru and Beksan Bedhaya Ngadilaga Kotabaru text will paired and will studied to know what aspects are transformed. By using the theory of intertextual researchers will unravel the problems and provide an explanation of the intrinsic elements covering subject matter and themes , setting/background , plot, characterization , and values to see its transformation process. The intrinsic elements become a one which analogized and become the study material so produce a answer of the research, that are main transformation problem and theme, setting, plot, characteritation, and the value in Beksan Bedhaya Ngadilaga Kotabaru. The intrinsic elements of the text bedhaya at Keraton Yogyakarta , Kotabaru battle history text , and text Beksan Bedhaya Ngadilaga Kotabaru analyzed for known models of transformation.

            The result of analysis of both of texts which paired prove there’re same elements and interpreted as elements which do transformation from historical text battle Kotabaru in to Beksan Bedhaya Ngadilaga Kotabaru text. The five elements which do transformation from historical text battle Kotabaru in to Beksan Bedhaya Ngadilaga Kotabaru text is a proof of good reception by choreographer in compose Beksan Bedhaya Ngadilaga Kotabaru. The transformation that was found in this research that are transformation forward/continue the hipogram and transformation that are break the hipogram.


Keywords


patriotisme, transformasi, bedhaya.

Full Text:

PDF

References


Ahimsa-Putra, Heddy Shri. 2001. Strukturalisme Levi-Strauss Mitos Dan Karya Satra. Yogyakarta: Galang Press.

Hadi, Y. Sumandiyo. 2012. Koreografi Bentuk-Teknik-Isi. Yogyakarta: Cipta Media.

Tim penyusun kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1995. “Kamus Besar Bahasa Indonesia”. Jakarta: Perum Balai Pustaka, p. 1.070.

Sumaryono, 2003. Restorasi Seni Tari & Transformasi Budaya. Yogyakarta: eLKAPHI (Lembaga Kajian Pendidikan dan Humaniora Indonesia).

Nurgiyantoro, Burhan. 1998. Transformasi QUnsur Pewayangan dalam Fiksi Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Rudyansjah, Tony. 2009. Kekuasaan, Sejarah, & Tindakan: Sebuah kajian tentang lanskap budaya. Jakarta: Rajawali Pers.

DAFTAR NARASUMBER:

Bagus S., 52 tahun, sebagai anak dari mantan tentara yang dahulu ikut dalam pertempuran Kotabaru.

W. Ragamulya, 40 tahun, sebagai penata iringan tari sekaligus penata Beksan Bedhaya Ngadilaga Kotabaru.




DOI: http://dx.doi.org/10.24821/joged.v8i2.1601

DOI (PDF): http://dx.doi.org/10.24821/joged.v8i2.1601.g401

Refbacks

  • There are currently no refbacks.