Penciptaan Teater “Jaka Kembang Kuning”

Wahid Nurcahyono

Abstract


Kesenian Wayang Beber yang terdapat di desa Kedompol, kecamatan Donorojo, kabupaten Pacitan Jawa Timur kurang mendapat sentuhan artistik, sehingga tidak mempunyai kepekaan terhadap konteks zamannya. Kondisi tersebut menjadikan masyarakat Pacitan khususnya, tidak mampu menikmati pertunjukan tersebut secara intens. Selain konteks dan selera yang berubah, pola kerjasama masyarakat juga bergeser dari semangat kebersamaan di pedesaan berubah menjadi pola kerja yang individualis seperti perkotaan. Hal tersebut menjadi salah satu penghalang bagi kesenian ini untuk berkembang sebab hanya dipertunjukkan dalam acara-acara ritual tertentu misalnya bersih desa atau selamatan saja.

Untuk itu terobosan perlu dilakukan diantaranya adalah dengan menjemput penonton di ruang publik untuk menyaksikan pertunjukan tradisional ini. Selain itu perlu ada usaha-usaha tertentu untuk memperkenalkan kesenian ini agar tetap mengikuti konteks zamannya. Meskipun berlatarbelakang cerita masa lalu, namun harus mampu diterima oleh masyarakat sebagai bagian mereka sesuai zamannya dengan mengambil beberapa idiom serta peristiwa kekinian.

Penciptaan teater Jaka Kembang Kuning adalah usaha untuk mengangkat kembali sebuah ide cerita yang semula disajikan dengan bertutur secara tradisional dalam bentuk pergelaran Wayang Beber yang memiliki berapa kelemahan terutama jika dilihat dari dinamika pertunjukannya yang lemah. Hal tersebut menjadikan kesenian ini tidak bisa menopang kehidupan kebutuhan hidup masyarakat pendukungnya dari sisi ekonomi maupun sosial. Untuk itu perlu adanya beberapa terobosan kreatifitas untuk mempertahankan eksistensinya, diantaranya adalah dengan membuka diri terhadap konteks pemirsanya.

Beberapa usaha tersebut diantaranya adalah adengan memasukkan aksi teatrikal, tembang serta musik, warna agar memberikan peluang yang lebih luas bagi munculnya imajinasi di penonton dan rasa ketertarikan mereka pada kesenian ini. Seluruh rangkain pertunjukan akan membentuk teks tersendiri dengan pemaknaan yang terbuka dan lugas. Peran aktif pemirsa sangat dibutuhkan agar tercipta sebuah jalinan yang erat antara seniman, karya cipta serta penikmatnya. Dibutuhkan usaha-usaha yang lebih radikal semisal mengajak penonton menjadi bagian dari sebuah karya seni yang utuh agar menumbuhkan rasa memiliki terhadap kesenian ini.

 

 

Creation theater Jaka Kembang Kuning is an attempt to revive an original story idea presented in the form traditionally tells Wayang Beber performances that have how many flaws, especially when viewed from the dynamics of the show. Visually traditional Wayang Beber becomes unattractive when compared with the puppet, puppet show, or other stage plays. This is the reason why Wayang Beber need to get a good touch broadly on the form and meaning of the play contained therein.

Theatrical action, song and music, color and composition are used as a means of said stories provide a wider opportunity for the emergence of imagination in the audience. The entire string of performances will form a separate text with an open and straightforward meaning. Active role of the viewer is needed in order to create a strong braid between the artist, the copyrighted work as well as the audience. It takes the efforts to invite more radical audience to be part of an artwork intact. Breakthroughs such as involving the viewer to enter into the process or the show can be a separate option in the lifestyles of people who are too lazy to visit the venue. Invites viewers into direct contact with the expected performances more intimate communication.

 


Keywords


Teater, Jaka Kembang Kuning

Full Text:

PDF

References


Al-Fayyadl, M. (2005). Derrida. Yogyakarta: LKis.

Barba, E., & Savarese, N. (1991). A Dictionary Of Theatre Anthropology, The Secret Art Of The Performer. London: Routledge.

Haryanto, S. (1988). Pratiwimba Adhiluhung, Sejarah dan Perkembangan Wayang. Jakarta: Djambatan.

Kernodle, G. R. (1967). Invitation To The Theatre. USA: Hartcourt, Brace & World. Inc.

Piliang, Y. A. (2003). Hipersemiotika, Tafsir CulturalStudies Atas Matinya Makna. Yogyakarta: Jalasutra.

Piliang, Y. A. (2004). Posrealitas, Realitas Kebudayaan dalam Era Postmetafisika. Yogyakarta: Jalasutra.

Sawega, A. M. (2013). Wayang Beber, Antara Inspirasi dan Transformasi. Solo: Bentara Budaya Balai Soedjatmoko.

Sugiharto, I. B. (1996). Postmodernisme, Tantangan Bagi Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.

Wilson, E. (2004). The Theater Experience. New York: McGraw-Hill.




DOI: https://doi.org/10.24821/jousa.v4i2.2164

Article Metrics

Abstract view : 318 times
PDF - 804 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Creative Commons License
This work is licensed under a 
Creative Commons Attribution 4.0 International LicenseISSN 2355-2131 (print) | ISSN 2355-214X (online).

 

View My Stats