“Warna Bali” dalam Pewarnaan Lukisan Wayang Kamasan

Wayan Kusuma Dibiagi

Abstract


Penggunaan cat warna Bali sebagai bahan pelukisan wayang kamasan saat ini dapat terbilang jarang. Hanya ada beberapa koleksi lukisan kuno yang secara keseluruhan masih mempergunakan pewarna alami, selebihnya merupakan kombinasi antara pewarna alami dan pewarna modern. Cat pewarna Bali merupakan sebuah warisan budaya yang menjadi bukti sebuah peradaban perkembangan seni rupa Bali di masa lampau yang patut dilestarikan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis penggunaan warna tradisional Bali dalam pewarnaan lukisan wayang kamasan. Analisis meliputi bahan baku pewarna, proses pembuatan warna, proses tahapan dalam pewarnaan lukisan, serta perbedaan lukisan wayang kamasan dengan penggunaan warna tradisional Bali dan warna pabrik/modern. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini yaitu kualitatif dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dalam penelitian mengungkapkan bahan baku pewarna yang digunakan dalam pewarnaan lukisan wayang kamasan adalah batu pere, kencu, daun taum, dan mangsi. Proses pembuatan warna dilakukan dengan mencampur bahan baku dengan menggunakan perekat warna yang terbuat dari lem mutiara, setelah cat pewarna jadi barulah dilakukan proses tahapan pewarnaan sesuai dengan pakem/aturan khusus. Perbedaan lukisan wayang kamasan dengan penggunaan warna tradisional Bali dan warna pabrik/modern meliputi visual warna, masa awet warna, kualitas lukisan, dan tingkat pemeliharaan lukisan.


Keywords


warna Bali, lukisan klasik, Wayang Kamasan

Full Text:

PDF

References


Abdussamad, Zuchri. (2021). Metode Penelitian Kualitatif. Makassar: CV. Syakir Media Press

Adnyana, I Wayan ‘Kun’. (2015). Arena Seni Pita Maha: Ruang Sosial dan Estetika Seni Lukis Bali 1930’an. Jurnal Panggung, 25(3), 249-263. DOI: http://dx.doi.org/10.26742/panggung.v25i3.22

Asthararianty, A., Widodo, P., & Ekobudiwaspada, A. (2016). Mengungkap Nilai-nilai Simbolis di Balik Warna Tradisional Bali Nawa Sanggha melalui Rancangan Desain Buku. Nirmana, 16(1), 18-39. DOI: https://doi.org/10.9744/nirmana16.1.18-39

Karja, I. W. (2021). Makna Warna. Prosiding Seminar Bali Dwipantara Waskita, 1(1). Retrieved from https://eproceeding.isi-dps.ac.id/index.php/bdw/article/view/260

Mudana, I. W., & Ribek, P. K. (2017). Komodifikasi Seni Lukis Wayang Kamasan Sebagai Produk Industri Kreatif Penunjang Pariwisata. Mudra Jurnal Seni Budaya, 32(1). DOI: https://doi.org/10.31091/mudra.v32i1.83

Sugiyono. (2007). Metode Penelitian Kuantitatif

Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: CV Alfabeta

Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Kombinasi (Mix Methods). Bandung: Alfabeta

Suliyanto. (2018). Metode Penelitian Bisnis. Yogyakarta: CV. Andi Offset.

Susanto, M. (2011). Diksi rupa: Kumpulan istilah dan gerakan seni rupa (Edisi revisi). Dicti Art dan Djagat Art House.

Suyasa, I. N. (2010). Transformasi penciptaan seni lukis Bali. Brikolase: Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa, 2(2). DOI: https://doi.org/10.33153/bri.v2i2.299

Mudarahayu, M. T., Sedana, I. N., Remawa, A. A. G. R., & Sariada, I. K. (2021). Estetika Bentuk Busana Pada Lukisan Wayang Kamasan. Panggung, 31(2). DOI: http://dx.doi.org/10.26742/panggung.v31i2.1573




DOI: https://doi.org/10.24821/ars.v26i2.9450

Article Metrics

Abstract view : 847 times
PDF - 245 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

 

 

visitor visitor