Transformasi Orkes Dangdut Menjadi Orkestra Dangdut dalam Perspektif Sosial Budaya: Kidung Etnosia

Aditya Susilo Sakti

Abstract


Abstrak

Dangdut adalah jenis musik populer di Indonesia. Melihat perkembangannya, tentu tidak terlepas dari elemen-elemen musiknya. Perkembangan tersebut juga terjadi pada kelompok musik Kidung Etnosia di Wonosari. Kajian terhadap musik dangdut pada dasarnya merupakan sebuah kajian tentang bentuk, struktur, orkestrasi, gaya dan sejumlah komponen musik lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui serta menganalisis bentuk dan struktur sajian kolaborasi musik dangdut dengan alat musik Barat pada kelompok musik Kidung Etnosia dalam konteks perubahan sosial budaya dan ekonominya. Untuk mencapai pemahaman yang menyeluruh terhadap masalah yang dikaji, digunakan paradigma antropologi yaitu Strukturalisme Levi-Strauss. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pengumpulan data melalui pengamatan terlibat (participatory observation), wawancara, dan studi literatur. Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa masyarakat Wonosari mampu menerima sajian orkestra dangdut karena sajiannya tidak meninggalkan unsur dangdut asli. Sajian orkestra dangdut merupakan bagian dari seni yang mengalami perubahan dalam konteks perubahan sosial budaya dan ekonomi masyarakat Wonosari. Sebagai kota yang kaya akan seni budaya lokal di dalamnya termasuk Kidung Etnosia yang awalnya hanya memainkan genre musik karawitan, kerocong, dangdut, campursari dengan format asli kini sudah mengalami perubahan yang membawa energi positif untuk membuka wawasan masyarakat khususnya Wonosari tentang musik Barat. Tentunya dengan tanpa meninggalkan kaidah-kaidah dalam musik aslinya.

Kata kunci: Dangdut, Orkestra Dangdut, Sosial Budaya

 

Abstract

Dangdut is a type of popular music in Indonesia. Seeing its development, of course it cannot be separated from its musical elements. This development also occurred in the music group Kidung Etnosia in Wonosari. The study of dangdut music is basically a study of form, structure, orchestration, style and a number of other musical components. This study aims to identify and analyze the form and structure of the performance of dangdut music collaboration with Western musical instruments in the Song of Ethnosia music group in the context of socio-cultural and economic changes. To achieve a thorough understanding of the problems studied, an anthropological paradigm, namely Levi-Strauss Structuralism, is used. This research is a qualitative research with data collection through participant observation, interviews, and literature studies. Based on the results of the research, it can be seen that the Wonosari people are able to accept dangdut orchestral performances because the performances do not leave the original dangdut elements. Dangdut orchestra performances are part of the arts that have undergone changes in the context of socio-cultural and economic changes in the Wonosari community. As a city that is rich in local cultural arts, including the Song of Ethnosia, which initially only played the musical genres of karawitan, kerocong, dangdut, campursari with the original format has now undergone a change that brings positive energy to open people's insight, especially the Wonosari people, about Western music. Of course, without leaving the rules in the original music.

Keywords: Dangdut, Dangdut Orchestra, Socio-Cultural


References


Ahimsa-Putra, H. S (2012). Strukturalisme Levi-Strauss Mitos dan Karya Sastra. Yogyakarta: Kepel Press

Astriawan, F. I., & Nurcahyono, O. H. (2021). Perubahan Sosial pada Kesenian Tradisional Ebleg Singa Mataram di Kelurahan Panjer Kecamatan Kebumen Kabupaten Kebumen. Studi Budaya Nusantara, 5(2), 118-132. doi: http://dx.doi.org/10.21776/ub.sbn.2021.005.02.04

Fu’adi. (2009). “Mengenal Lebih Dekat Musik Orkestra”. Dalam Jurnal Harmonia, Volume IX, No. 2, 143-148. doi: https://dx.doi.org/10.15294/harmonia.v9i2.643

Miles, H. B. dan Huberman A. M. 1992. Analisis Data Kualitatif (terj. Tjetjep Rohendi Rohidi). Jakarta: UI Press.

Mintargo, W. (2018). Budaya Musik Indonesia. DIY: PT Kanisius.

Mustika, I. W., & Setyarini, P. (2022). The Influence of Jathilan and Joged Roofing Arts for The Socio-Cultural Life of The Community: Case Studies on Javanese and Balinese Ethnicity in Lampung, Indonesia. Mudra Jurnal Seni Budaya, 37(1), 45-59. doi: https://doi.org/10.31091/mudra.v37i1.1896

Muttaqin, M. (2006). “Musik Dangdut dan Keberadaannya di Masyarakat: Tinjauan dari Segi Sejarah dan Perkembangannya”. Dalam Harmonia Jurnal Pengetahuan dan Pemikiran Seni, Volume VII, No.2. doi: https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/harmonia/article/viewFile/755/696

Muttaqin, M. (2003). Musik Dangdut: Sebuah Kajian Musikologis. UGM, Yogyakarta.

Levi-Strauss, C. (2007). Antropologi Struktural. Yogyakarta: Kreasi Wacana

Quroatun'uyun, Z. (2020). The Dynamics of Industrialization in Dangdut Music Culture on Television with CDA Concept. Ekpresi Seni, 22(2), 17-31. doi: http://dx.doi.org/10.26887/ekspresi.v22i2.1008

Rahayu, B. A. (2018). “Dangdut Musik Affects Behavior Change at School and Adolescent Youth in Indonesia: A Literature Review”. Dalam Health Science Journal, Vol. 12, No.1:552. doi: https://doi.org/10.21767/1791-809X.1000552

Rohidi, T. R 2011. Metodologi Penelitian Seni. Semarang: Cipta Prima Nusantara.

Rokhmansyah, A. 2014. Studi dan Pengkajian Sastra: Perkenalan Awal Terhadap Ilmu Sastra. Yogyakarta: Graha Ilmu

Romadhon, A. (2013). “Musik Dangdut Koplo di Grup Bhaladika Semarang Dalam Konteks Perubahan Sosial Budaya”. Dalam Jurnal Catharsis: Journal Arts Education, Vol. 2, No.1. doi: http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/catharsis

Sari, D. K., & Wadiyo, W. (2018). The Influence of Socio-Cultural Changes to the Form of Randai Kuantan Art in Kuantan Singingi Riau. Catharsis, 7(1), 87-93. doi: https://doi.org/10.15294/catharsis.v7i1.21885

Sari, R. N., & Utomo, U. (2018). The Change of Function of Rejung Arts in Pagaralam City. Catharsis, 7(1), 109-116. doi: https://doi.org/10.15294/catharsis.v7i1.23433

Simatupang, L. (2013). Pergelaran: Sebuah Mozaik Penelitian Seni- Budaya. Yogyakarta: Jalasutra.

Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Takari, M. (2001). “Akumulasi Musikal dalam Seni Pertunjukan Dangdut”. Dalam Jurnal Selonding, Vol 1. No.1. Hal 1.

Weintraub, A. (2010). Dangdut Stories: A Social and Musical History of Indonesia’s Most Popular Music. United State of America: Oxford University

Weintraub, A. (2012). Dangdut Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).




DOI: https://doi.org/10.24821/ekp.v13i1.12228

Article Metrics

Abstract view : 355 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.