Eksploitasi Tambang Pasir di Kabupaten Garut sebagai Inspirasi Penciptaan Naskah Drama Uga Wangsit Siliwangi

Nova Rizky Firmansyah, Elara Karla Nugraeni, Kurnia Rahmad Dhani

Abstract


Abstrak

Penelitian penciptaan ini bertujuan untuk menghasilkan naskah drama Uga Wangsit Siliwangi berdasarkan kritik terhadap kerusakan lingkungan serta konflik sosial akibat eksploitasi tambang pasir di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Penulisan naskah ini juga hendak menghidupkan kembali legenda Prabu Siliwangi sebagai simbol pelestarian alam. Metode penciptaan menggunakan pendekatan berbasis praktik seni yang diangkat dari realitas sosial. Observasi lapangan dilakukan di wilayah Leles, Garut, dengan wawancara dengan narasumber terkait. Studi pustaka terhadap naskah Carita Parahyangan, serta perumusan treatment, penokohan, alur berbasis perkembangan watak, dan latar Leuweung Sancang dan Buwana Larang. Hasil karya adalah berupa naskah drama tiga babak yang mengaplikasikan pendekatan estetika surealisme satir politis. Naskah ini memadukan bahasa Sunda buhun dan keseharian, serta menyajikan elemen surealis (seperti tembok pasir) dan satir politik melalui dialog-dialog sindiran. Naskah yang dihasilkan menawarkan pendekatan penceritaan baru dalam teater ekologis melalui perpaduan unik antara surealisme satir politik, bahasa Sunda, dan narasi folklor yang diadaptasi secara kritis.

 

Kata kunci: teater ekologis, Uga Wangsit Siliwangi, satir politik, surealisme, tambang pasir.

 

Abstract

Sand Mining in Garut Regency as Inspiration for the Creation of the Drama Script Uga Wangsit Siliwangi. This creative research aims to produce a play script titled Uga Wangsit Siliwangi, based on a critique of environmental degradation and social conflicts resulting from sand mining exploitation in Garut Regency, West Java. The script also intends to revitalize the legend of Prabu Siliwangi as a symbol of nature conservation. The creation method employs an arts-based practice approach derived from social reality. Data collection included field observations in Leles, Garut, and interviews with relevant informants. Additionally, a literature study was conducted on the Carita Parahyangan manuscript, followed by the formulation of the treatment, characterization, character-driven plot, and settings in Leuweung Sancang and Buwana Larang. The final work is a three-act play script that applies a political-satiric surrealist aesthetic. The script blends archaic (buhun) and colloquial Sundanese, featuring surreal elements—such as walls of sand—and political satire through satirical dialogue. The resulting script offers a new storytelling approach in ecological theater through a unique synthesis of political satiric surrealism, Sundanese language, and critically adapted folklore narratives.

 

Keywords: Ecological theater, Uga Wangsit Siliwangi, political satire, surrealism, sand mining.


References


Ain, N., & Zahid, A. (2024). Penambangan pasir ilegal: Studi kasus dampak ekologi penambangan pasir ilegal pada Desa Sumberasri Nglegok Blitar. Jurnal Ekologi, Masyarakat dan Sains, 5(1), 20–32.

Artjog.id. (2023, July 2). Waktu Batu. Rumah yang Terbakar. Garasi Performance Institute. https://artjog.id/2023/detail-performa.php?urut=1

Atja, & Saleh, D. (1981). Carita Parahyangan: Transkripsi dan Terjemahan. Proyek Pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Dewojati, C. (2012). Drama: Sejarah, teori dan penerapannya. Javakarsa Media.

Djajadiningrat, I. (2019). Bahasa Sunda dalam seni pertunjukan: Tantangan dan peluang pelestarian. Jurnal Kajian Budaya Sunda, 5(1), 20–30.

Ekosistemdatajabar. (2022). Jumlah produksi pertambangan provinsi Jabar tahun 2022. Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Barat.

https://data.jabarprov.go.id

Egri, L. (2020). The art of dramatic writing: Seni menulis lakon teater (E. K. Dewi, Penerj.). Kala Buku. (Karya asli diterbitkan 1946).

Garrard, G. (2012). Ecocriticism (2nd ed.). Routledge.

Indrawardana, I. (2012). Kearifan lokal adat masyarakat Sunda dalam hubungan dengan lingkungan alam. Komunitas, 4(1), 1–8.

Keraf, A. S. (2010). Etika lingkungan. Kompas.

Pemerintah Kabupaten Garut. (2018). Pertambangan. Portal Informasi Kabupaten Garut. Diakses pada 16 Mei 2025, dari https://www.garutkab.go.id/page/pertambangan

Pikiran Rakyat. (2019, 10 Desember). Erosi tanah akibat penambangan pasir di Tutugan, Garut. Diakses pada 23 Februari 2025, dari https://www.pikiran-rakyat.com

Purnama, F. (2025, May 15). Bupati Garut larang penambangan pasir di Gunung Guntur. Antara News. https://www.antaranews.com/berita/4864721/bupati-garut-larang-penambangan-pasir-di-gunung-guntur

Sinarpaginews.com. (2025, May 27). Pembiaran tambang ilegal di Garut meresahkan, Pemkab dinilai abaikan kebijakan gubernur Jabar dan aturan hukum yang berlaku. https://sinarpaginews.com/pembiaran-tambang-ilegal-di-garut-meresahkan-pemkab-dinilai-abaikan-kebijakan-gubernur-jabar-dan-aturan-hukum-yang-berlaku/

Suherman, D. W., Tjahyandari, S. D., & Mulatsih, S. (2015). Dampak penambangan pasir terhadap kondisi lahan dan air di Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, 5(2), 99–105.

Sunaryo, A. (2018). Teater berbasis kearifan lokal: Pelestarian budaya dan kritik sosial. Jurnal Seni Pertunjukan Indonesia, 12(1), 30–40.

Wijaya, T. (2018, Nov 30). Seniman Harus Berperan Dalam Penyelamatan Bentang Alam, Caranya? https://mongabay.co.id/2018/11/30/seniman-harus-berperan-dalam-penyelamatan-bentang-alam-caranya/




DOI: https://doi.org/10.24821/ekspresi.v14i2.19312

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a
Creative Commons Attribution 4.0 International License.