Keberagaman Busana Tari Gambyong: Konstruksi Sosial pada Busana Tari Gambyong di Yogyakarta

Bening Krisnasari

Abstract


Tari Gambyong awalnya merupakan tari tunggal putri yang termasuk dalam tari tradisi gaya Surakarta. Pada perkembangannya, tari tunggal ini dapat ditarikan secara berkelompok, sehingga bisa menyesuaikan keinginan konsumen atau pun penyelenggara acara mengenai jumlah penari yang akan menarikannya. Tari Gambyong sering dijadikan sebagai pentas paket para seniman karena tari Gambyong sering ditarikan untuk pembukaan sebuah acara seperti gala dinner, penyambutan tamu, dan sebagainya. Maka tari Gambyong dapat digolongkan sebagai pertunjukan komersial karena dapat dipentaskan di acara besar maupun kecil. Karena sering dipentaskan pada berbagai acara, permintaan pada busana tari Gambyong pun bermacam-macam untuk menyesuaikan bentuk acara, sehingga terjadi keberagaman bentuk busana tari Gambyong pada masa kini. Artikel ini secara khusus membahas keberagaman bentuk busana tari Gambyong masa kini yang dipengaruhi oleh realita sosial, baik secara sengaja maupun tidak sengaja.

 

Diversity of Gambyong Dance Dress: Social Construction on Gambyong Dance Dress in Yogyakarta

Abstract

Gambyong dance was originally a women's singles dance which was included in the Surakarta style traditional dance. In its development, this single dance can be danced in groups, so that it can adjust the wishes of consumers or event organizers regarding how many dancers will dance it. The Gambyong dance is often used as a stage for artists' packages because the Gambyong dance is often danced for the opening of an event such as a gala dinner, welcoming guests, and so on. So, the Gambyong dance can be classified as a commercial performance because it can be performed at both big and small events. Dances are often staged at various events, the demand for the Gambyong Dance dress also varies because it adjusts to the form of the event, so that there is a diversity of forms of the Gambyong dance dress today. This article specifically discusses the diversity of forms of contemporary Gambyong dance dress that are influenced by social reality, both intentionally and unintentionally.


Keywords


Gambyong, perubahan busana, keberagaman busana, konstruksi sosial | Gambyong, changes in clothing, diversity of clothing, social construction

Full Text:

PDF

References


Atmadja, B. T., & Dkk. (2018). S. Ngaliman Tjondropangrawit Sang Pembaharu Jelajah Spiritual Kesenimanan Tradisi. Gramasurya.

Gillin, J. L. G. J. P. (1942). Cultural sociology a revision of an introduction to sociology /by John Lewis Gillin, John Philip Gillin. The Mac.

Hadi, Y. S. (2018). Revitalisasi Tari Tradisional. Cipta Media.

Jazuli, M. (2016). Peta Dunia Seni Tari. CV. Farishma Indonesia.

Nathania, I. (2020). Perkembangan Tata Busana Tari Persembahan Di Kota Batam. Seni Tari, 9(1), 19–24. https://doi.org/10.15294/JST.V9I1.36036

Nuraini, I. (2016). Metode Belajar Tari Puteri Gaya Surakarta. BP ISI Yogyakarta.

Pujileksono, S. (2018). Pengantar Sosiologi. Intrans Publishing.

Rondiyah, A. A., Wardani, N. E., & Saddhono, K. (2017). Untuk Meningkatkan Pendidikan Karakter Kebangsaan Di Era MEA (Masayarakat Ekonomi Asean). The 1st Education and Language International Conference Proceedings Center for International Language Development of Unissula, 141–147.

Sachari, A. (2002). Estetika: Makna, Simbol, dan Daya. ITB.

Simatupang, L. (2013). Pergelaran: Sebuah Mozaik Penelitian Seni-Budaya. Jalasutra.

Suharto, B. (1987). Pengamatan Tari Gambyong Melalui Pendekatan Berlapis Ganda.

Sulaiman, A. (2016). Memahami Teori Konstruksi Sosial Peter L. Berger. Society, 4(1), 15–22. https://doi.org/10.33019/society.v4i1.32

Sumaryono. (2017). Antropologi Tari dalam Perspektif Indonesia. Penerbit Media Kreativa Yogyakarta.

Thowok, D. N. (2012). Stage Make-Up: Untuk Teater, Tari, dan Film. PT Gramedia Pustaka Utama.

Widyastutieningrum, S. R. (2011). Sejarah Tari Gambyong: Seni Rakyat Menuju Istana. ISI Press.




DOI: https://doi.org/10.24821/invensi.v8i1.7100

Article Metrics

Abstract view : 321 times
PDF - 589 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2023 Bening Krisnasari



Editorial Address:

Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Jalan Suryodiningratan 8 Yogyakarta 55143, Indonesia

Telp./Fax: 0274 419791

email : jurnal.invensi@isi.ac.id

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

 

View my stat Visitors