Kreativitas Musik Campursari Grup Irama Manunggal dalam Perspektif Filsafat Keindahan DeWitt H. Parker
Abstract
Penelitian ini mengkaji kreativitas musik campursari oleh Grup Irama Manunggal dalam peribadatan Gereja Stasi Maria Assumpta, Bawen, Kabupaten Semarang, sebagai bentuk inkulturasi musik liturgi yang memadukan instrumen tradisional Jawa dan instrumen modern. Tujuan penelitian adalah (1) mendeskripsikan bentuk kreativitas aransemen liturgis yang dikembangkan grup, (2) menjelaskan dinamika penerimaan jemaat, serta (3) menganalisis keterpenuhan asas-asas bentuk estetis menurut DeWitt H. Parker. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui observasi partisipatif pada latihan dan peribadatan, wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap 12 anggota grup, 2 pengurus gereja, dan 5 jemaat, serta dokumentasi (partitur, foto, dan video). Analisis data dilakukan secara interaktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan, disertai triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan: (a) transformasi praktik iringan dari format keroncong menuju ensambel campursari dilakukan sebagai respons atas kebutuhan musikal jemaat; (b) strategi aransemen dibedakan menurut bagian liturgi (pembukaan–ordinarium–persembahan–komuni–penutup) untuk menjaga kesesuaian suasana ibadah; (c) integrasi idiom campursari mendorong keterlibatan jemaat dalam bernyanyi tanpa mengganggu kekhidmatan, melalui pengendalian tempo, ornamentasi, dan dominasi instrumen. Pembahasan dengan teori Parker menunjukkan bahwa praktik musikal grup menampilkan kesatuan bentuk, tema dan variasinya, keseimbangan unsur tradisi–modern, perkembangan bentuk dalam konteks komunitas, serta tata jenjang peran instrumen dalam struktur musikal liturgi. Penelitian ini berimplikasi pada penguatan model inkulturasi musik liturgi berbasis budaya lokal yang tetap selaras dengan norma liturgis, serta membuka peluang kajian lanjutan berupa analisis musikal-notasional dan evaluasi dampak jangka panjang terhadap partisipasi umat.
Campursari Creativity in Catholic Liturgy: A Parker Aesthetic Analysis
Abstract
This study investigates the creative use of campursari music by the Irama Manunggal Group in Catholic worship services at St. Maria Assumpta Station Church, Bawen (Semarang Regency, Indonesia), as a contemporary form of liturgical inculturation that combines Javanese musical idioms with modern instruments. The study aims to (1) describe the group's liturgical arrangement practices, (2) examine congregational reception and participation, and (3) assess how the musical practice fulfills DeWitt H. Parker's principles of aesthetic form. A descriptive, qualitative case study design was employed. Data were collected through participant observation during rehearsals and worship services, semi-structured in-depth interviews with 12 group members, 2 church administrators, and 5 congregants, and documentation (scores, photographs, and performance videos). Data were analyzed using an interactive model (data reduction, data display, and conclusion drawing), supported by source and method triangulation. The findings indicate that: (a) the ensemble evolved from a previous keroncong practice into a hybrid campursari format in response to the community's musical expectations; (b) arrangement strategies are differentiated across liturgical sections (opening, ordinary, offertory, communion, and closing) to preserve ritual appropriateness; and (c) congregational engagement is enhanced through controlled tempo, restrained ornamentation, and hierarchical instrumental roles that maintain solemnity while allowing cultural rootedness. The discussion, framed by Parker's aesthetic theory, suggests that the ensemble's practice demonstrates unity, thematic coherence and variation, balance between tradition and modernity, developmental continuity within the community context, and a clear hierarchy of musical functions. This study contributes to the discourse on Indonesian liturgical inculturation by offering an aesthetics-based analytical model and recommending further research using detailed musical transcription and longitudinal evaluation of participatory and spiritual impacts.
Keywords: campursari; liturgical music; inculturation; DeWitt H. Parker aesthetics; case study.Keywords
Full Text:
PDFReferences
Amon, L., & Samdirgawijaya, W. (2017). Pemahaman Umat Tentang Musik Liturgi di Stasi St. Yosef Kampung Baru. Gaudium Vestrum: Jurnal Kateketik Pastoral, 13–22.
Azzahra, S. Y., Alwani, M. F., & Nafsika, S. S. (2019). "Tetap Fokus di Jalan": Aesthetic Perspective of Public Service Advertising. Cinematology: Journal Anthology of Film and Television Studies, 1(2).
Bakok, Y. D. B. (2013). Musik Liturgi Inkulturatif di Gereja Ganjuran Yogyakarta. Resital: Jurnal Seni Pertunjukan, 14(1).
Bauw, S. C. (2024). Upaya Meningkatkan Pemahaman Umat Tentang Musik Inkulturasi dalam Liturgi Ekaristi Melalui Katekese Umat di Lingkungan Stella Maris Paroki Kristus Raja-Mopah Lama [Skripsi]. Sekolah Tinggi Santo Yokabus Merauke.
Blothong, A. S., & Sukotjo, S. (2024). Metode Kreatif dalam Penciptaan Musik Etnis: Memadukan Tradisi dan Modernitas. PROMUSIKA, 12(2), 77–89. https://doi.org/10.24821/promusika.v12i2.13867
Bonafiatus, D. Y., Simatupang, Y., & Djohan, D. (2018). Kehadiran Nyanyian Rohani Dalam Liturgi Gereja Katolik Di Yogyakarta: Studi Kasus Nyanyian Karya Soeliandari Retno [Tesis]. Universitas Gadjah Mada.
Bramantyo. (2023). Semiotika Dalam Kajian Budaya Media Dan Dalam Kajian Kebudayaan Kita. Dalam Zulisih Maryani (Eds.). Estetika, Seni, dan Media: Bunga Rampai Purnatugas Alexanderi Luthfi R. Badan Penerbit ISI.
Dey, N. P. H., & Djumaty, B. L. (2023). Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Deepublish.
Djelantik, A. A. (1999). Estetika: Sebuah Pengantar. Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.
Duta, V. F., Habasari, S. K., & Farhah, E. (2024). Campursari Koplo Cultural Practices: Sinden's Body and the Arena of Audience Power. International Journal of Multicultural and Multireligious Understanding, 11(7), 531–540.
Efrida, E. (2016). Estetika Minangkabau dalam Gerak Tari Bujang Sambilan. Ekspresi Seni, 18(1). https://doi.org/10.26887/ekse.v18i1.84
García-Benito, R. (2025). Beyond universality: Cultural diversity in music and its implications for sound design and sonification. Proceedings of the 20th International Audio Mostly Conference, 178–189.
Gie, T. L. (1976). Garis Besar Estetik (Filsafat Keindahan).
Handoko, A. B. (2022). Estetika musik Gereja dalam perspektif estetika musik dan teologi Kristen. Tonika: Jurnal Penelitian Dan Pengkajian Seni, 5(2), 72–83.
Irawan, D. (2016). Kajian Bentuk Estetis Kain Tenun Kapal Dalam Masyarakat Saibatin Lampung Timur Menurut De Witt H. Parker. Imaji: Jurnal Seni Dan Pendidikan Seni, 14(2), 98–106.
Kattsoff, L. O. (2004). Pengantar Filsafat. Rineka Cipta.
Kristian, S., Adinuhgra, S., & Maria, P. (2021). Peran Musik Liturgi Dalam Meningkatkan Partisipasi Kaum Muda Katolik Dalam Perayaan Ekaristi. Sepakat: Jurnal Pastoral Kateketik, 7(1), 112–126.
Kurniawan, A., & Hidayatullah, R. (2016). Estetika seni. Arttex.
Laksono, J. T. (2010). Perspektif Historis Campursari dan Campursari ala Manthou's. IMAJI: Jurnal Seni dan Pendidikan Seni, 8(1).
Linke, S., Wendt, G., & Bader, R. (2024). Clustering of Indonesian and Western Gamelan Orchestras through Machine Learning of Performance Parameters. ArXiv Preprint ArXiv:2409.03713.
Magdalena, E., Natalia, D., Pranata, A., & Wijaya, N. J. (2022). Filsafat dan Estetika Menurut Arthur Schopenhauer. Clef : Jurnal Musik Dan Pendidikan Musik, 3(2), 61–77. https://doi.org/10.51667/cjmpm.v3i2.1111
Maharani, P. U., & Sodiq, I. (2025). Perkembangan Musik Campursari di Yogyakarta tahun 1990-2019: Dari Manthous hingga Didi Kempot. Jurnal Sosial Humaniora Dan Pendidikan, 4(1), 672–690. https://doi.org/10.55606/inovasi.v4i1.4388
Martasudjita, E. P. D. (1998). Musik gereja zaman sekarang. Pusat Musik Liturgi.
Muryani. (2017). Agama dan Budaya: Praktik Inkulturasi Gereja dan Budaya Jawa di Gereja Katolik Pusarang Kediri [Skripsi]. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
Pandin, M. G. R. (2018). Nilai estetis humor ludruk: Perspektif DeWitt Parker. Proceeding Icon-Elite, 1(1), 72–82.
Parker, D. H. (1946). The principles of aesthetics. FS Crofts & Company.
Pasaribu, R. B. F. (2013). Manusia dan Keindahan. wordpress. https://rowlandpasaribu.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/10/bab-05-manusia-dan-keindahan1.pdf
Purnomo, A. K., & Willyam, V. (2023). Kontekstualisasi Penggunaan Campursari Dalam Ibadah Gerejawi: Studi Kasus GKJ Kenalan Magelang. BONAFIDE: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen, 4(2), 177–197.
Ricky, Y. N., & Dawami, A. K. (2023). Analisis Karya Lukis Berjudul "Kakak dan Adik" Berdasarkan Sudut Pandang De Witt H. Parker. Brikolase: Jurnal Kajian Teori, Praktik Dan Wacana Seni Budaya Rupa, 15(1), 1–10.
Sari, N. D., & Daely, M. M. (2025). Logo Aqua dari Perspektif Estetika Dewitt H. Parker. Creativa Scientia, 2(1), 41–53.
Sembodo, M. L., & Sunarto, B. (2021). Langen Sekar Pamuji Aliran Baru Dalam Musik Religi Gereja Kristen Jawa Di Surakarta. Sorai: Jurnal Pengkajian Dan Penciptaan Musik, 14(1), 26–34.
Sihaloho, D. B. R. (2025). Kajian Estetika Thomas Aquinas pada Peranan Musik Gereja Terhadap Spiritual Formation Gen Z. INVENSI, 10(1), 127–140.
Surajiyo, S. (2015). Keindahan Seni Dalam Perspektif Filsafat. Jurnal Desain, 2(03), 157–168.
Susanti, V. E., & Suhatmini, T. (2025). Proses Kreatif Komposisi Karawitan "Gesang" Sebagai Wujud Representasi Sosial. PROMUSIKA, 13(1), 41–58. https://doi.org/10.24821/promusika.v13i1.14985
Susantina, S. (2018). Ekspresi Aksiologis dalam Tradisi Keilmuan Musik. DEDIKASI.
Sutrisno, M., & Verhaak, C. (1994). Estetika: filsafat keindahan. Penerbit Kanisius.
Tama, S. A. H. P. (2018). Inkulturasi Prier memperkaya ekspresi iman dengan musik. Jurnal Teologi (Journal of Theology), 7(1), 77–96.
Wahyudi, R., & Idawati, I. (2023). Nilai Estetika Pada Kesenian Musik Bezikei Di Desa Kuala Tolam, Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Koba: Jurnal Pendidikan Seni Drama, Tari Dan Musik, 10(1), 17–31.
Wiyoso, J. (2007). Campursari: Suatu bentuk akulturasi budaya dalam musik. Harmonia: Journal Of Arts Research And Education, 8(3).
Wulanda, G. A. N. (2023). Penerapan Teori Bentuk Estetik Dewitt H. Parker Sebagai Paradigma dalam Ranah Apresiasi Musik. Grenek Music Journal, 12(1), 65. https://doi.org/10.24114/grenek.v12i1.45313
DOI: https://doi.org/10.24821/promusika.v14i1.17155
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2026 PROMUSIKA

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
P-ISSN: 2338-039X (print) | E-ISSN: 2477-538X (online)
