FUNGSI DAN BENTUK PENYAJIAN MANTRA DAN KATAMBUNG DALAM RITUAL BALIAN MIMBUL KULUK METU SUKU DAYAK NGAJU DI KOTA PALANGKA RAYA

Zulfikar Muhammad Nugroho

Abstract


Mantra dan katambung merupakan bunyi-bunyian yang terdapat dalam ritual balian mimbul kuluk metu suku Dayak Ngaju di Kota Palangka Raya. Masyarakat Dayak Ngaju meyakini bahwa ritual balian mimbul kuluk metu adalah wahana untuk menjaga keharmonisan alam semesta. Penelitian ini difokuskan pada dua hal, yaitu: (1) mengetahui fungsi dan (2) bentuk penyajian mantra dan katambung dalam ritual balian mimbul kuluk metu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang dipadukan dengan pendekatan etnomusikologis. Hasil penelitian ini menunjukan terdapat hubungan erat antara mantra-katambung dan ritual balian mimbul kuluk metu yang tercermin
melalui fungsinya sebagai sarana ritual, persembahan simbolis, komunikasi vertikal, dan sarana integrasi masyarakat. Hubungan kompleksitas tersebut turut tergambarkan melalui bentuk penyajiannya yang meliputi struktur pertunjukan, aspek musikal, dan aspek non musikal. Struktur pertunjukan meliputi tiga tahapan, yaitu: tandak, mantra dan katambung, serta katambung mengiringi prosesi penanaman kepala kerbau (mimbul kuluk metu). Aspek musikal meliputi melodi (ruang) dan ritme (waktu), dan aspek non musikal meliputi tempat, waktu, sesajen, benda ritual, pelaku, dan kostum.

Keywords


fungsi, bentuk penyajian, mantra, katambung, balian mimbul kuluk metu, dayak Ngaju

References


Bakar, Seth, Siren F, Rangka, Gani T. Andin. 1986/1987. Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Daerah Kalimantan Tengah. Jakarta: Direktur Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Barier, Georg Martin. 2014. “Agama Hindu Kaharingan Sebagai Nativisme Sesudah Pengaruh Kristen Menjadi Peristiwa Yang Tak Ada Tandingannya”, dalam Jurnal Simpson. Volume 1. Nomor 2. Desember.

Koebek Dandan Ranying, Lewis, Simal Penyang, Walter S. Penyang, Bajik R. Simpei, Mantikei R. Hanyi, Rangkap I. Nau, Hanno Kampffmeyer, Yerson. 2009. Panaturan. Denpasar: Penerbit Widya Dharma.

Kuri, I Putu Gelgel, I Wayan Budi Utama. 2018. “Basir in Religious System of Dayak Hindu Kaharingan Society”, dalam International Journal of Social Sciences and Humanities, Vol 2, No. 2, August, pages 164-174.

Nakagawa, Shin. 2000. Musik dan Kosmos – Sebuah Pengantar Etnomusikologi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Nau, Rangkap I. 2003. Buku Kandayu Penuntun Persembahyangan. Palangka Raya: Mejelis Besar Agama Hindu Kaharingan Pusat.

Nettl, Bruno. 2012. Teori dan Metode dalam Etnomusikologi. Terj. Natha H. P. Dwi Putra. Jayapura: Jayapura Center

of Music.

Nur Rahmawati, Neni Puji. 2013. “Upacara Adat Mamapas Lewu”, dalam Jantra, Vol. 8, No. 2, Desember.

Riwut, Tjilik. 2015. Maneser Panatau Tatu Hiang - Menyelami Kekayaan Leluhur. Yogyakarta: NR Publishing.

Soedarsono, R.M. 2001. Metodologi Penelitian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Sugiyarto, Wakhid. 2016. “Eksistensi Agama Hindu Kaharingan di Palangka Raya”, dalam Harmoni: Jurnal Multikultural & Multireligius. Vol. 15. No.3. September-Desember.

Miles, Matthew B., A. Michael Huberman. 2009. Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru Terj. Tjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta: UI Press.

Creswell, John W. 2015. Penelitian Kualitatif & Desain Riset Terj. Ahmad Lintang Lazuardi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Ugang, Hermogenes. 2010. Menelusuri Jejek-Jejak Keluhuran. Kalimantan Tengah: Lembaga Dayak Panarung.

William P. Malm. 1967. Music Cultures of The Pasific, The Near East and Asia. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

Mahin, Marko. 2006. “Kaharingan: Dinamika Agama Dayak di Kalimantan Tengah”. Disertasi untuk menempuh derajat S-3 Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Departemen Antropologi Program Studi Pascasarjana Universitas Indonesia.

Narasumber

Parada Lewis Koebek Danum Ranying S.Ag., M.Si., 50 tahun, Ketua Majelis Hindu-Kaharingan Pusat Palangka Raya, Kota Palangka Raya.

Rabiadi, S.Sos.H., M.Pd.H., 32 tahun, Basir, Rohaniawan Hindu Kaharingan, Dosen, Kota Palangka Raya.

Fransiskus Widodo, 31 tahun, Basir, Rohaniawan Hindu-Kaharingan, Swasta, Kota Palangka Raya.




DOI: https://doi.org/10.24821/sl.v16i1.5135

Article Metrics

Abstract view : 70 times
PDF (Bahasa Indonesia) - 65 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


 

 

View My Stats