Transformasi Penyajian Kesenian Bantengan Di Kabupaten Malang, Jawa Timur
Abstract
Pertunjukan kesenian Bantengan di wilayah Kabupaten Malang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat setempat. Kostum yang menyerupai banteng dan iringan musik tradisional gamelan yang sudah dikreasikan membuat pertunjukan ini selalu menarik perhatian masyarakat Malang. Perkembangan yang dialami kesenian Bantengan bukan sebuah kemunduran, melainkan merupakan proses kreatif yang bertujuan untuk menjaga keberlanjutan dan eksistensi warisan kesenian leluhur. Metode penelitian dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan secara etnomusikologi.
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa bantengan merupakan seni pertunjukan yang memadukan unsur tari, musik, beladiri, dan ritual dalam satu kesatuan pertunjukan yang kaya akan nilai-nilai budaya dan spiritual. Bentuk sajian bantengan terbagi menjadi bantengan tradisional dan bantengan kreasi. Bantengan khusunya di kabupaten Malang mengalami transformasi. Wujud dari adanya transformasi pada kesenian ini dilihat dari musik pengiring digantikan oleh musik elektronik. Kemunculan Sound Horeg mempengaruhi aspek sajian kesenian Bantengan. Hubungan dan keterkaitan Sound Horeg dengan Kesenian Bantengan menimbulkan pro dan kontra. Banteng yang digunakan pada kesenian itu sendiri kini telah berubah dengan inovasi dan kreativitas masyarakat. Erat kaitanya Kesenian Bantengan dengan sumber daya manusia, khususnya masyarakat sekitar kelompok Kesenian banyak merasakan manfaat dari adanya kelompok Kesenian Bantengan ini, dikarenakan bisa menjadi lapangan pekerjaan.
Keywords
Full Text:
PDF (Bahasa Indonesia)References
Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. (2019). Bantengan Jawa Timur: Sebuah seni pertunjukan unsur sendratari. Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/bantengan-jawa-timur-sebuah-seni-pertunjukan-unsur-sendratari/
Gunawan, A., Yulaeliah, E., & Razak, A. (2023). Perubahan Genrang Palili’dalam Ritual Adat Mappalili’di Kelurahan Bontomate’ne Kecamatan Segeri Kabupaten Pangkaje’ne Dan Kepulauansulawesi Selatan. Selonding: Jurnal Etnomusikologi, 19(2), 88–100.
Herwanto, A. P., & Nugroho, Y. S. (2012). Bantengan: Kadigdayaan Seni Tradisi. APH.
Irawati, E. (2021). Transmisi, Kesinambungan, & Ekosistem Kunci Musik Tradisi (A. Setiawan, Ed.; 1st ed.). Penerbit Art Music Today.
Irawati, E., & Astini, N. K. R. D. (2023). Pembinaan Seni Pertunjukan Desa Candisari, Bansari. Jurnal Pengabdian Seni, 4(2), 131–140. https://doi.org/https://doi.org/10.24821/jps.v4i2.11144
Merriam, A. P. (1964). The Anthropology of Music. Northwestern University Press.
Mulyono, M., Swendra, C. G. R., & Yudani, H. D. (2016). Perancangan Audio Visual Seni Bantengan di Kota Batu . Neliti.
Nugraha, R. A., & Supeno, M. Y. (2020). Komunikasi Interpersonal Pengguna Jalan Dalam Wujud Karya Cipta Musik Berjudul “BANGJO.” Selonding: Jurnal Etnomusikologi, 16(1), 59–69. https://doi.org/https://doi.org/10.24821/sl.v16i1.5053
Sulistyo, D. (2014). Menyusur Jejak Bantengan Di Kota Wisata Batu. Kantor Perpustakaan Kearsipan Dan Dokumentasi Pemerintah Kota Batu.
Supanggah, R. (2009). Bothekan Karawitan II (Vol. 2). ISI Press Surakarta.
Supeno, M. Y., & Wijayanto, A. N. (2021). Aspek Sains dan Budaya Instrumen Cetik dalam Tinjauan Etno Organologi Akustik. Ideas: Jurnal Pendidik, Sosial, Dan Budaya, 7(2), 125–136. https://doi.org/10.32884/ideas.v7i2.362
Tuzzahroh, F. (2019). Bantengan Seni Tradisional Jawa Timuran. Beranda.
DOI: https://doi.org/10.24821/sl.v21i2.15462
Refbacks
- There are currently no refbacks.


