Nilai-nilai Pancasila sebagai Inspirasi Seni Kajian Performance Studies dalam perspektif Komunikasi

Ririt Yuniar

Abstract


Generasi nasionalis, mengutamakan kepentingan bangsa Negara di atas kepentingan pribadi dan golongan. Artinya generasi yang taat hukum; disiplin; cinta tanah air; menghormati keragaman suku, agama, budaya; rela berkorban; mampu mengapresiasi budaya bangsa sendiri; menjaga kekayaan budaya bangsa; unggul dan berprestasi; serta mampu menjaga lingkungan. Sekolah, masyarakat, dan keluarga menjadi ekosistem pendidikan yang harus bersinergi. Terciptan karya seni kreatif dan inovatif yang memuat kelima sila beserta butir-butir Pancasila sebagai sebuah nilai luhur, keberagaman dan Kebhinekaan di Indonesia menjadi salah satu solusi alternatif bagi terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini sejalan dengan Visi Misi ISI Yogyakarta, yaitu adanya penerapan dan pengoptimalan nilai-nilai Pancasila dalam konsep dan karyanya dengan memegang teguh konsep ideal bangsa Indonesia guna mewujudkan penciptaan seni maupun mengkaderisasi pendidik seni secara efektif juga menjadi tujuan utama tulisan ini. Teori strategi komunikasi (mengenal khalayak, merancang pesan, menetapkan metode, dan proses seleksi dalam penggunaan media) sangat relevan jika diterapkan oleh kreator seni dengan menggunakan pendekatan performance studies sebagai sebuah metode guna meningkatkan kualitas dan kreativitas para kreator seni yang lebih mengutamakan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman berkarya. Nilai-nilai Pancasila diimplementasikan melalui karya seni yang “borderless” artinya tidak terbatas lintas ruang dan waktu dalam konsep dan praktiknya. How to karya itu diciptakan, diproduksi, ditampilkan, dilestarikan, oleh para seniman, serta penikmat seni lainnya. Melalui pendidikan karakter yang berintegritas karya seringkali memuat substansi pesan moral di dalamnya. Nilai-nilai Pancasila raw-material yang fundamental dan terinternalisasi dalam kehidupan keseharian melalui berbagai profesi.

 

The nationalist generation prioritizes the interests of the nation and state above personal and group interests. It means the law-abiding generation; discipline; love for the homeland; respecting ethnic, religious, cultural diversity; willing to sacrifice; able to appreciate the nation's culture; maintain the nation's cultural wealth; excel and achieve; and able to protect the environment. Schools, communities, and families become educational ecosystems that must work together. The creation of creative and innovative works of art containing the five precepts and the points of Pancasila as a noble value, diversity and diversity in Indonesia is one of the alternative solutions for realizing the Unitary State of the Republic of Indonesia (NKRI). This is in line with the Vision and Mission of ISI Yogyakarta, namely the application and optimization of Pancasila values in their concepts and works by upholding the ideal concept of the Indonesian nation in order to realize the creation of art well as to regenerate art educators effectively. The theory of communication strategy (knowing the audience, designing messages, determining methods, and selection processes in media used) is very relevant if applied by art creators using a performance studies approach as a method. This approach is to improve the quality and creativity of art creators who prioritize the values of Pancasila as a working guide. Pancasila values are implemented through borderless artwork, meaning they are not limited across space and time in concept and practice. How to work it was created, produced, displayed, preserved by artists and other art connoisseurs. Through character education with integrity, the work often contains the substance of the moral message in it. The values of Pancasila are raw materials that are fundamental and internalized in daily life through various professions. 


Keywords


performance studies; komunikasi; seni pertunjukan; nilai-nilai Pancasila; pendidikan seni

Full Text:

PDF

References


Arifin, A. (1984). Strategi Komunikasi. Bandung: Armico.

Brain, D. (2004). Material Agency and the Art of Artifacts: in Sosiology of Arts. A Reader (T. Jeremy, ed.). Taylor & Francis e-Library.

Carlson, M. (1986). Performance: A Critical Introduction. New York: Routledge.

Conquergood, D. (1991). Rethinking ethnography: Towards a critical cultural politics. Communications Monographs, 58(2), 179–194.

Effendy, O. U. (2005). Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Murgiyanto, S. (1995). Mengenai Kajian Pertunjukan. In Metodologi Kajian Tradisi Lisan (P. M. P. S. ‪Suniarti‬, ed.). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan.

Narawati, T. (2003). Performance studies: An introduction (Sebuah tinjauan buku). Panggung: Jurnal Seni STSI Bandung, (27), 6–12.

Ruslan, R. (2002). Kiat dan Strategi Kompanye Public Relations. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Schechner, R. (2003). Performance Studies: An Introduction. London: Routledge.

Soedarsono, R. M. (2002). Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Jakarta: Depdikbud.

Susanto, B. (2008). Membaca Poskolonialitas (di) Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.

Vivian, J. (2008). Teori Komunikasi Massa (8th ed.). Jakarta: Kencana Prenada Media.




DOI: https://doi.org/10.24821/ijopaed.v1i2.5342

Article Metrics

Abstract view : 294 times
PDF - 140 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2021 Ririt Yuniar

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Our journal indexed by:



View IJOPAED Stats